Mobil Hybrid Jadi Senjata Strategis Toyota Meski Dinilai Melawan Arus
Jakarta, investortrust.id – Toyota sekali lagi menampilkan sebuah pencapaian seperti tim sepakbola yang jago meracik strategi. Di saat banyak perusahaan otomotif ramai-ramai mengumumkan untuk beralih ke teknologi mobil listrik, Toyota tetap kalem.
Bukan Toyota tidak menelurkan mobil listrik, namun mereka memilih untuk mendiversifikasi teknologi. Bisa dibilang saat ini Toyota menjadi salah satu produsen mobil dengan lini penghasil daya gerak paling lengkap. Mulai dari ICE, BEV, PHEV, hingga teknologi hidrogen.
Seperti dikutip dari gridoto, konsumen disuguhkan begitu banyak pilihan lini produk dengan berbagai teknologi. Terkini, di ajang Tokyo Mobility 2025, Toyota menampilkan mobil Corolla Concept, sebuah mobil model yang digadang bisa diproduksi dengan berbagai macam mesin. Corolla Concept bisa ditanami dapur pacu mulai dari mesin ICE,BEV, PHEV, hingga hidrogen.
Dan kini mobil hybrid Toyota memimpin pasar. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total mobil hybrid atau HEV yang terjual hingga September 2025 sebanyak 46.240 unit, hampir 10% dari total 500.931unit penjualan mobil di Indonesia.
Dari jumlah 46.240 unit tersebut Toyota masih mendominasi di pasar mobil hybrid, mencatatkan angka sebanyak 22.259 unit. Sejumlah model andalannya yakni Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, hingga Alphard Hybrid. Mayoritas sudah diproduksi lokal di Pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Karawang.
Di sisi lain, Gaikindo juga menyebutkan total penjualan untuk mobil listrik di Indonesia sebanyak 50.831 unit selama delapan bulan pertama tahun 2025, dari total 500.931unit penjualan mobil di Indonesia.
Pilihan memperkuat mobil hybrid dari Toyota ini dianggap melawan arus dan dinilai tidak tepat. Pada Ajang Tokyo Mobility Show 2025, Marketing General Manager PT Toyota Astra Motor, Resha Kusumaatmadja, menjelaskan bahwa Toyota memikirkan solusi apa yang dibutuhkan konsumen, bagaimana daya belinya serta dukungan infrastruktur di sebuah daerah atau negara.
Di ajang yang sama, seperti dikutip dari Gridoto, Pras Ganesh, Executive Vice President, Toyota Motor Asia, menceritakan pengalaman yang dialami Toyota atas keputusannya memilih pendekatan multi-pathway.
"Kami bicara mengenai mobility 1.0, 2.0 dan 3.0. Faktanya kami perusahaan otomotif yang menjadi perusahaan mobility. Ketika kami bicara ini, sayangnya perspektif dunia berbeda. Kami mendapat perbedaan pandangan dari banyak orang dan proyek multi-pathway Toyota tidak tepat. Kalian enggak menuju teknologi tunggal, kenapa kalian tidak fokus pada satu teknologi yang mendukung (tren global)," ungkap Pras dalam Media Briefing di Tokyo, Jepang (28/10).
Toyota pun terlihat oleh perusahaan lain membuat outline yang bertentangan dengan apa yang dilakukan banyak pihak di kalangan industri.
"Itulah lingkungan yang kami dapati," tambah Pras. Namun waktu berlalu dan banyak hal berubah. Banyak perusahaan otomotif, khususnya perusahaan otomotif tradisional, mengubah aturan mereka.
"Banyak dari mereka bicara tentang meninggalkan pendekatan EV, mereka bicara mengenai perlunya mengenalkan lebih banyak hybrid, perlunya waktu untuk transisi, dan perlunya meninggalkan teknologi tunggal," pungkas Pras.
"Ini mirip dengan apa yang kami umumkan dulu," lanjutnya. Dan...pabrikan lain pun kembali melirik mesin bakar dan hybrid. Sementara itu Toyota beranjak meriset bahan bakar terbarukan.

