Toyota Astra Motor Harap Mobil Hybrid Juga dapat Insentif Pajak
TANGERANG, investortrust.id - PT Toyota Astra Motor (TAM) berharap pemerintah tidak hanya memberikan insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
Menurut Direktur Marketing TAM Anton Jimmi Suwandy, insentif berupa Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) seharusnya diberikan juga ke kendaraan ramah lingkungan lainnya, termasuk kendaraan hybrid atau hibrida.
Sebab, kata dia, pemberian insentif hanya untuk kendaraan listrik berbasis baterai belum mampu menarik minat masyarakat Indonesia untuk beralih ke kendaraan tersebut.
Infrastruktur pendukung berupa Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang ada saat ini menurut Anton masih belum memadai. Alhasil, pengguna kendaraan listrik, khususnya mobil listrik hanya terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Baca Juga
TAM Minta Pemerintah Berikan Insentif Mobil yang Diproduksi di Dalam Negeri
“Pengguna mobil listrik itu banyaknya Jakarta karena memang keunggulannya bebas ganjil genap. Kalau di luar Jakarta apalagi di luar Jawa penggunanya sedikit karena fasilitas pendukung belum banyak dan juga mobilitas mereka belum sepenuhnya terakomodasi oleh mobil listrik,” katanya dalam Media Gathering TAM di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Selasa (23/7/2024).
Anton menjelaskan ada empat jenis mobil listrik yang dapat diberikan insentif oleh pemerintah untuk mendorong percepatan net zero emission. Pertama adalah, hybrid electric vehicle (EV) yang menggabungkan penggunaan mesin konvensional dan motor listrik dengan tingkat emisi lebih rendah 50% dari mobil konvensional.
Kedua adalah, plug in hybrid EV yang menggabungkan penggunaan mesin konvensional dengan motor listrik yang tenaganya berasal dari baterai. Ketiga adalah battery EV dengan motor listrik yang ditenagai oleh listrik dari baterai.
Terakhir atau keempat adalah fuel cell EV, mobil yang masih sangat terbatas jumlahnya ini menggunakan hidrogen sebagai bahan bakarnya. Sama seperti battery EV, mobil dengan teknologi ini sama sekali tidak mengeluarkan emisi atau zero emission.
Baca Juga
Yayasan Mochamad Thohir Undang Karyawan BEI Ikut Seleksi Beasiswa S2 TAMBA & SAMBA
“Setiap orang tidak harus memiliki mobil tertentu, misal BEV untuk bisa berkontribusi terhadap emisi. Tetapi bisa dimulai dengan mobil ramah lingkungan, dan Toyota sudah memiliki semua itu, baik HEV, PHEV, BEV, dan mudah-mudahan ke depannya fuel cell juga,” paparnya.
Anton menyebut Toyota sangat serius untuk mendorong nol emisi karbon. Dia mengeklaim pabrikan asal Jepang itu menjadi pelopor dari kendaraan berteknologo elektrifikasi di dunia lewat kehadiran Toyota Prius Hybrid generasi pertama pada 1997.
“Perlahan seluruh mobil Toyota akan mengarah pada elektrifikasi. Ini dapat dilihat dari merek mobil premium dari Toyota, Lexus,” tegasnya.
Kemudian menurut Anton adalah insentif diberikan hanya untuk kendaraan yang diproduksi di dalam negeri. Karena bagaimanapun juga kendaraan yang diproduksi di dalam negeri memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, khususnya penyerapan tenaga kerja.
“Intinya insentif ini jangan untuk produk (mobil) yang impor. Berikan ke mobil yang diproduksi di dalam negeri, dampak ke ekonominya besar, menyerap tenaga kerja, kontribusi ke negara,” pungkasnya.

