Indonesia Harus Segera Menyusun Preferential Trade Agreement
Prof Dr Ariawan Gunadi
Pakar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional/Guru Besar Universitas Tarumanagara, Jakarta
Indonesia harus segera menyusun preferential trade agreement (PTA) tahun ini untuk meningkatkan potensi perdagangan internasional. PTA diharapkan membuka peluang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.
Dengan PTA, Indonesia bisa memainkan atau melakukan perdagangan produk-produk dalam negeri ke sejumlah negara untuk diperdagangkan tanpa hambatan dan bebas bea masuk (BM).
Contohnya saat Presiden Republik Tanzania, Samia Suluhu Hassan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia untuk bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.
Peristiwa tersebut menandai kunjungan internasional perdana bagi Presiden Hassan pada 2024 dan sebagai balasan terhadap kunjungan bilateral yang sebelumnya dilakukan Presiden Jokowi pada Agustus 2023.
Kedatangan Presiden Tanzania merupakan momentum yang bagus untuk melakukan dan membuka perdagangan internasional yang saling menguntungkan dan bebas BM, tidak hanya bagi negara di benua Afrika.
Pada pertemuan bilateral, kedua pemimpin negara merencanakan kolaborasi yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari perdagangan, hingga kesehatan serta upaya konkret yang dapat diambil oleh kedua negara.
Kunjungan ini mencerminkan tekad kedua negara untuk menghadapi tantangan bersama dan mendorong pertumbuhan yang saling menguntungkan guna menciptakan kemitraan yang semakin kuat dan kokoh di masa depan antara Tanzania dan Indonesia.
Kedua negara perlu segera menyusun PTA tahun ini sehingga mampu menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih efisien, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan secara keseluruhan memperkuat hubungan bilateral di bidang perdagangan antara kedua negara.
Sebagai contoh, peningkatan kerja sama di sektor minyak dan gas melalui pengelolaan Blok Gas Mnazi Bay oleh Pertamina di Mnazy Bay dan pemberian pelatihan kepada pegawai Tanzania Petroleum Development Corporation (TPDC) merupakan bentuk trade agreement yang konkret.
Ke depan, Indonesia dan Tanzania juga perlu merealisasikan kerja sama di sektor hulu dan hilir migas, termasuk peluang investasi hilir pada stasiun CNG dan pasokan Mini LNG dengan Medco Energi serta rencana investasi Sinka Sinye Agrotama (SSA) di bidang pupuk.
Selain itu, guna melindungi investasi yang dilakukan kedua negara, Indonesia dan Tanzania perlu segera membuat bilateral investment treaty (BIT).
Kerja Sama Indonesia-Tanzania
Dalam pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Republik Tanzania, Samia Suluhu Hassan terungkap bahwa Indonesia akan memberikan dukungan kepada Tanzania melalui serangkaian inisiatif.
Salah satunya adalah komitmen untuk merestorasi dan meningkatkan kinerja Farmer’s Agriculture and Rural Training Center (FARTC) di Morogorodan, dengan menyelenggarakan pelatihan sumber daya manusia di sektor minyak dan gas serta pertanian, sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan keahlian para tenaga kerja di kedua sektor tersebut.
Selain itu, Indonesia akan berperan aktif dalam menerapkan National Single System, suatu sistem yang bertujuan memperkuat integrasi dan efisiensi dalam manajemen sumber daya nasional serta merampungkan grand design pembangunan lima tahun ke depan untuk Afrika.
Terkait kesehatan, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa perusahaan farmasi Indonesia berkomitmen memenuhi kebutuhan medis di Tanzania. Presiden Jokowi menekankan pentingnya menjalankan penjajakan intensif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia dengan Otoritas Obat dan Medis Tanzania.
Tujuan penjajakan ini adalah mempercepat proses registrasi produk farmasi. Presiden menggarisbawahi bahwa kerja sama yang erat antara kedua badan pengawas ini akan memberikan dampak positif, seperti memastikan ketersediaan produk medis yang aman dan berkualitas serta memastikan akses yang lebih baik terhadap perawatan medis di Tanzania. ***

