Bahaya! Ransomware Kini Incar 'Backup' Data Perusahaan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan di Indonesia kini menghadapi ancaman siber yang kian kompleks. Ransomware tak lagi hanya menyasar sistem utama, tetapi juga mulai menargetkan cadangan data (backup) yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir perlindungan digital.
Country Leader Indonesia Veeam Software, Laksana Budiwiyono mengungkapkan banyak perusahaan di dunia yang masih lalai dalam mengelola backup sehingga gagal memulihkan sistem ketika serangan terjadi. “Sering kali backup-nya tidak proper. Ketika direstorasi gagal, atau data yang aman ternyata terakhir tersimpan 30 hari lalu. Ini membuat kerugian semakin besar,” ujarnya di Jakarta, Kamis (25/9/2025).
Menurut Laksana, pola serangan siber saat ini telah berkembang pesat. Pelaku tidak lagi puas hanya melumpuhkan sistem produksi, tetapi juga berusaha merusak backup agar perusahaan tidak bisa melakukan pemulihan cepat. “Mereka tidak hanya menyerang produksi, backup juga jadi target. Tujuannya supaya perusahaan tidak punya jalan keluar,” jelasnya.
Lebih lanjut, kondisi ini menempatkan backup sebagai elemen krusial dalam strategi ketahanan siber. Veeam mencatat, insiden ransomware yang berhasil menembus lapisan backup bisa menyebabkan kerugian bisnis berlipat ganda, mulai dari kehilangan data penting hingga terhentinya operasional dalam waktu lama. “Backup yang gagal artinya tidak ada jalan kembali. Ini bisa membuat bisnis lumpuh total,” bebernya.
Baca Juga
Ancaman Siber Meningkat, OJK Minta Bank Perkuat Edukasi dan Sistem Perlindungan Data
Skenario terburuk bahkan terjadi saat perusahaan terpaksa mempertimbangkan membayar tebusan untuk memulihkan sistem. Namun, langkah ini bukan solusi jangka panjang. “Kalau kita membayar, kita bisa jadi target berikutnya. Mereka tahu kita mau membayar dan bisa menyerang lagi,” ujarnya.
Laksana menekankan pentingnya pendekatan preventif melalui backup yang kuat, berlapis, dan dilindungi enkripsi. Selain itu, perusahaan perlu memiliki rencana respons insiden yang matang agar bisa bertindak cepat jika serangan terjadi. “Yang terbaik tetap pencegahan. Edukasi, kesiapan sistem, dan backup yang benar menjadi kunci agar kita tidak jadi sasaran empuk,” tegasnya.
Ancaman ransomware yang menyasar backup juga menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak lagi bisa dianggap sebagai urusan teknis semata. Ini menyangkut keberlangsungan bisnis secara menyeluruh, termasuk reputasi dan kepercayaan pelanggan.
Data IDC memperkirakan kerugian ekonomi akibat serangan siber di Asia Tenggara telah menembus lebih dari US$ 200 miliar per tahun, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat serangan tertinggi. Dengan digitalisasi yang terus meningkat, para pelaku bisnis dituntut memperkuat infrastruktur keamanan mereka.
“Ke depan, serangan akan makin canggih dan terarah. Karena itu, bisnis di Indonesia harus terus meningkatkan kesadaran dan membangun pertahanan yang menyeluruh,” tutup Laksana.
