Pasar Eropa Menantang, GPEI: Afrika dan Timur Tengah Bisa Jadi Solusi Ekspor
Jakarta, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno memprediksi kinerja ekspor dari dalam negeri ke negara-negara Eropa pada tahun depan, bakal menantang seiring dengan ketegangan politik yang masih berlangsung.
Oleh karena itu, kata dia Indonesia perlu mencari potensi pasar ekspor baru.
Ketegangan geopolitik di Rusia-Ukraina, lanjut Benny, membuat Ukraina menekan anggaran belanjanya dan mengurangi konsumsi akibat biaya energi yang mahal.
Baca Juga
Menhub: Perbaikan Layanan Kepelabuhanan Dorong Peningkatan Ekspor
Kemudian perang Hamas-Israel juga membuat area Laut Merah dihindari oleh shipping line, dari Asia ke Eropa karena tidak berani ke Terusan Suez, jadi melalui Tanjung Harapan.
“Ini (Tanjung Harapan) melalui Afrika Selatan yang memberikan waktu tambahan 10 hari dan tentunya ada ongkos tambahan karena kebutuhan bahan bakar kapal bertambah, lalu ada risiko dihadang bajak laut Somalia,” ujarnya, dalam virtual seminar, Rabu (27/12/2023).
Dikatakan, dengan sejumlah tantangan tersebut, Indonesia harus memikirkan solusi lain seperti mengalihkan orientasi ekspornya ke pasar Afrika. Karena jalur perdagangan ke Afrika tanpa melalui Terusan Suez dan masyarakat di Afrika banyak yang membutuhkan barang kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga
“Orientasi kita seharusnya dipindahin dulu dari Eropa ke Afrika. Karena pasar Afrika jumlah penduduknya dua miliar orang dan tentu ada beberapa negara yang punya penghasilan lebih tinggi dari Indonesia,” kata Benny.
Selain Afrika, Indonesia juga punya delegasi atau misi dagang secara langsung dengan Timur Tengah. Karena setiap tahun atau bahkan setiap hari banyak orang Indonesia yang melakukan ibadah umroh.
“Dengan itu kenapa kita tidak gandakan menjadi sales kita untuk menjual barang-barang di Timur Tengah. Itu merupakan ekspor baru yang harus kita tekuni, tidak harus ke Eropa. Eropa menurut saya sudah mulai sunset sebagai pasar,” terang Benny.
