Ketum GPEI Beberkan Dampak Serangan Iran ke Israel pada Sektor Ekspor RI
JAKARTA, Investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno biaya logistik khususnya angkutan laut akan menerima dampak berupa kenaikan biaya akibat friksi antara Iran dengan Israel yang diikuti pada serangan sekitar 300 rudal dan drone ke Israel pada Minggu pagi (14/4/2024).
“Dampaknya angkut Sea Freight akan meningkat biayanya,” ucap Benny kepada investortrust.id, Senin (15/4/2024).
Kenaikan biaya disebabkan kapal pengangkut barang-barang ekspor dengan tujuan ke Eropa dan negara-negara Mediterania tidak bisa melewati jalur terusan Suez.
Para pemilik kapal kargo akan memilih rute pengiriman barang ekspor memutar lebih jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika. Dengan memilih jalur alternatif ini, maka jangka waktu pengiriman akan lebih lama, dan membuat biaya bahan bakar semakin meningkat.
“Pertama waktu tempuh akan bertambah 10 sampai 14 hari serta bertambahnya biaya fuel, sehingga total biaya bertambah sekitar 25% dari harga biasanya (saat lewat Terusan Suez),” terangnya.
Dengan adanya serangan dari Iran, tambah Benny, tidak menutup kemungkinan akan ada serangan balasan dari Israel. Hal ini dipastikan akan mengganggu perjalanan kapal kapal tanker yang melewati selat Bosphorus.
“Akibatnya harga crude oil akan naik lagi dan berimplikasi kepada biaya logistik dan energi ke seluruh dunia, akhirnya daya beli akan menurun karena harga barang tentu akan melonjak,” tandas Benny.
Baca Juga
CORE: Serangan Iran ke Israel akan Pengaruhi Harga Minyak Dunia
Sebelumnya Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebutkan, serangan Iran terhadap Israel pada Minggu pagi (14/4/2024) akan berpengaruh pada harga minyak bumi di dunia.
Pasalnya, menurut Faisal, Iran merupakan salah satu negara yang menjadi produsen minyak bumi paling besar di dunia. Serangan oleh Iran dikhawatirkan akan menimbulkan dampak serangan balasan kembali oleh Israel, yang bisa mengganggu stabilitas produksi minyak di Negeri Ayatullah tersebut.
“Nah ini juga bisa mendorong eskalasi harga minyak dunia hingga di atas US$ 100 per barel,” ucap Faisal kepada investortrust.id, Minggu (14/4/2024).
Baca Juga
Jika harga minyak bumi di dunia terkerek akibat perang Iran dan Israel, maka hal tersebut diprediksi akan memicu terjadinya inflasi di dalam negeri.
“Dan inflasi ini kemudian akan ada dampaknya terhadap yang disebut imported inflation yang bisa masuk ke dalam negeri,” terangnya.
Faisal pun menilai perang yang dilakukan Iran akan berpengaruh dari sisi supply demand energi dunia. Kondisi ini berbeda dengan perang antara Ukraina dan Rusia yang memiliki dampak dari sisi pangan dunia.
