Siap Jadi Pemain Utama Dekarbonisasi, PHE Bangun Dua CCS Hub
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi migas, memperkuat peran dalam dekarbonisasi melalui implementasi teknologi carbon capture storage (CCS) dan carbon capture utilization storage (CCUS). Langkah ini menjadi bagian dari strategi Pertamina Group untuk mendukung target pemerintah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060.
“CCS dan CCUS adalah salah satu solusi potensial untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Direktur Investasi & Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, dalam forum Asia Pacific CCUS Conference & Exhibition 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (26/8/2025).
Dengan pengalaman di hulu migas, PHE mengembangkan klaster bisnis CCS/CCUS berkapasitas sekitar 60 metrik ton per tahun. Perusahaan menyiapkan dua CCS hub di Indonesia. Untuk wilayah barat, PHE tengah mengembangkan CCS hub di Asri Basin dengan potensi penyimpanan 1,1 giga ton (GT). Sementara untuk wilayah timur, perusahaan berencana membangun CCS hub di Central Sulawesi Basin dengan kapasitas 1,9 GT.
Baca Juga
SKK Migas Diminta Tegakkan TKDN di Hulu Migas, Khususnya di Proyek EPC Termasuk CCS/CCUS
Selain itu, PHE akan membangun satelit CCS/CCUS di South Sumatera Basin, CO₂ enhanced oil recovery (EOR) Sukowati, dan East Kalimantan. Studi tambahan dilakukan di Central Sumatra Basin, South Sumatera Basin (saline aquifer), East Java Basin, serta Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB).
PHE memperkirakan potensi kapasitas penyimpanan emisi karbon di saline aquifer dan depleted oil/gas field di seluruh Indonesia mencapai 7,3 GT. “PHE akan membangun dua CCS hub dan beberapa CCS satelit untuk melayani emitters domestik dan internasional. Kami perlu berkolaborasi dengan strategic partners untuk membangun ekosistem ini,” kata Dannif.
Dannif menekankan pentingnya dukungan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan industri CCS. Ia menyoroti lima bentuk dukungan yang dapat mempercepat pengembangan ekosistem, yakni pendanaan proyek, mekanisme harga karbon, riset dan pengembangan, standar teknis, serta tata kelola lintas batas.
Menurutnya, skema pendanaan dapat meniru Inggris yang mendirikan CCS Infrastructure Fund (CIF). Sementara itu, mekanisme harga karbon perlu diperluas ke luar sektor pembangkit listrik batu bara, mirip dengan emission trading system (ETS) di Inggris.
Baca Juga
Pertamina International Shipping Ungkap Peluang Bisnis di Bidang Carbon Capture and Storage (CCS)
Di bidang litbang, Dannif mencontohkan program Departemen Energi Amerika Serikat yang mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar (setara Rp 49,5 triliun) untuk proyek percontohan CCS. Dukungan teknis juga diperlukan melalui penerapan standar keselamatan yang jelas, seperti yang dilakukan Inggris.
Terakhir, tata kelola lintas batas bisa meniru Norwegia yang telah menerapkan pedoman perdagangan karbon internasional. “Industri penghasil emisi di dalam negeri maupun internasional merupakan pasar yang potensial bagi pengembangan ekosistem CCS di Indonesia dan Asia Pasifik,” ujarnya.
