Potensi Penyimpanan Karbon Indonesia Capai 577 Gigaton, Tapi Masih Dianggap Limbah
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam penangkapan karbon yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan mengungkapkan, potensi kapasitas penyimpanan karbon pada saline aquifer atau reservoir air mencapai 572,77 gigaton dan potensi kapasitas penyimpanan pada depleted oil and gas reservoir sekitar 4,85 gigaton.
Hal ini diutarakan langsung Nurul Ichwan dalam acara Investortrust Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Batu Bara dan Kedaulatan Energi Nasional: Menjembatani Realitas Ekonomi dan Komitmen Iklim" di Mangkuluhur Hotel Artotel, Jakarta, Rabu (28/5/2025).
"Karbon ini sementara ini, kita masih menganggap dia sebagai waste. Instead of sebagai commodity, ataupun sebagai resource. Nah, ini yang kita harus perbaiki. Karena di dalam DNA kita sendiri pun, itu masih dianggap sebagai waste. Jadi, kita sedang mengusulkan supaya DNA dari karbon ini untuk diubah tidak menjadi bagian kelompok limbah. Tetapi menjadi komoditas yang bisa dihilirisasi. Nah, dengan kesempatan itu, maka kemampuan kita untuk menyimpan karbon yang tidak kurang dari 577 gigaton di Indonesia," ujar Nurul.
Nurul menjelaskan, hal ni menjadi sumber yang luar biasa bagi Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dengan menangkapnya, sambil kemudian melakukan teknologi penyesuaian yang lain dengan menghasilkan yang lebih ramah terhadap lingkungan.
"Nah, inipun kemudian, bisa kita lakukan kombinasinya dengan proyek-proyek nikel yang lainnya, karena ke depan ini dari beberapa perusahaan ini, kita tahu kalau kita lihat dari perkembangan yang ada, ini ada 550 perusahaan multinasional yang berkomitmen melakukan net zero carbon. Nah, di net zero carbon itu, itu ada pendekatannya ada yang eliminasi karbon, kemudian laporan berkala. Nah, yang menarik ini, credible offset. Jadi, menetralkan emisi dengan menggantinya dengan penyeimbangannya," ungkap Nurul.
Lebih lanjut, Nurul menyebut, Indonesia bisa memiliki sumber-sumber itu, yang kemudian ditawarkan kepada industri global yang masih dicemari dengan karbonnya, untuk kemudian melakukan offset terhadap proyek-proyek yang dimiliki oleh Indonesia.
"Entah itu yang berkaitkan proyek dengan tanah gambutkah, yang berkaitan dengan mangrove kah, ataupun dengan hal-hal yang lainnya," kata Nurul.

