Sudah Ditandatangani 3 Menteri, RUPTL 2025-2034 Rampung dalam Sebulan
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiyani Dewi mengungkapkan, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 bakal rampung dalam kurun waktu sebulan ke depan.
“Insyaallah dalam 1 bulan ini pasti sudah akan goal ya RUPTL-nya karena tinggal sedikit lagi dan itu hanya perlu finalisasi saja,” kata Eniya dalam acara press conference The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025, Senin (14/4/2025).
Baca Juga
Bahlil Minta PLN Bangun Pembangkit Geotermal Berkapasitas 40 MW di Maluku
Dia menyebutkan, saat ini draf RUPTL tersebut sudah ditandatangani tiga menteri, yakni Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Ketiga kementerian tersebut sudah memiliki kesepakatan bersama.
Eniya menerangkan, salah satu poin yang dibahas dalam RUPTL adalah energi panas bumi (geotermal). Direncanakan, selama 10 tahun ke depan bakal dibangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berkapasitas 5,2 gigawatt (GW).
“Kita bisa lihat nanti di RUPTL peta jalannya selama 10 tahun, dan saya harapkan eksploitasi panas bumi ini benar-benar menjadi solusi base load,” ujar Eniya.
Eniya memaparkan, harga listrik yang berasal dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di daerah-daerah jauh lebih mahal dibandingkan PLTP. Maka dari itu, pemerintah berencana mendorong pembangunan PLTP di berbagai wilayah.
“Saat ini kalau dibandingkan dengan BBM, diesel di daerah-daerah, harga listriknya itu luar biasa tinggi, dan itu yang ingin kita kurangi. Kalau panas bumi kita bicara US$ 9,5 cent per KWh-nya, tetapi kalau diesel di Maluku itu sekitar (US$) 40-50 cent,” terang dia.
Menurut Eniya, pembangkit panas bumi bisa menjadi salah satu solusi base load karena perbedaan harganya yang jauh lebih murah. Sementara itu, penggunaan diesel bisa dialihkan untuk produktivitas industri.
Baca Juga
PGE Jajaki Pengembangan Panas Bumi di Kenya Gandeng BUMN Setempat
“Jadi BBM fungsinya tidak hanya untuk pembangkit, tetapi dialihkan ke produktivitas industri, karena pertumbuhan ekonomi harus mencapai 8% pada 2029,” ucapnya.

