Vivo 'Pede' Penjualan dari Luar China Bisa Tembus 70%
HAINAN, investortrust.id - Produsen smartphone asal China, Vivo menargetkan, peningkatan kontribusi penjualan dari pasar luar negeri hingga 70% dalam 2 tahun ke depan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian ekspansi global di tengah pasar ponsel China yang semakin jenuh.
Chief Operating Officer Vivo Hu Baishan mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari separuh pendapatan perusahaan berasal dari luar China. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 60% pada tahun depan dan 70% pada 2027. “Bagi kami, masa depan jelas ada di pasar luar negeri,” ujar Hu dilansir dari Bloomberg, Rabu (26/3/2025).
Baca Juga
Vivo V50 Hadir di Indonesia, Tingkatkan Performa tapi Harga Tetap Sama
Pada acara Boao Asia di Hainan, China beberapa waktu lalu, Vivo memperkenalkan smartphone flagship terbarunya, Vivo X200 Ultra, yang dijadwalkan dijual bulan depan.
Selain itu, perusahaan juga mengumumkan pengembangan headset virtual reality (VR) yang prototipenya siap diuji pada Agustus, serta laboratorium riset robotika untuk memperkuat inovasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut laporan IDC, Vivo berhasil meningkatkan pengiriman ponsel di China lebih 10% pada 2024, mengalahkan Apple, Huawei, dan Xiaomi dalam persaingan pasar. Namun, kondisi pasar yang semakin monoton, mendorong Vivo lebih agresif mengembangkan bisnis di luar negeri.
Hu menyoroti lemahnya kepercayaan konsumen di China karena cenderung lebih lama menggunakan perangkat baru sebelum menggantinya. Meski pemerintah telah mengeluarkan subsidi dan diskon untuk mendorong permintaan, tetapi dampaknya tidak berlangsung lama. “Subsidi hanya mempercepat permintaan penggantian perangkat, tetapi tidak mengubah pasar secara keseluruhan,” kata Hu.
India menjadi pasar terbesar Vivo di luar negeri. Perusahaan fokus pada penjualan ponsel premium dengan harga di atas US$ 600. Sementara di pasar, seperti Filipina dan Indonesia, Vivo fokus pada peningkatan volume penjualan.
Baca Juga
Saat iPhone 16 Belum Bisa Dijual di Indonesia, Dominasi Apple di China Disalip Vivo dan Huawei
Menurut riset Canalys, Vivo saat ini memimpin pasar smartphone di Indonesia dan berada di posisi kedua di Malaysia. Meski demikian, Hu menegaskan bahwa perusahaan tidak menetapkan target pertumbuhan spesifik untuk masing-masing pasar. “Prioritas utama tim kami di luar negeri adalah pertumbuhan. Jika tidak ada pertumbuhan, maka akan ada masalah,” ujar Hu.
Hu menyebut, Vivo belum berencana memasuki pasar negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat dalam waktu dekat. Perusahaan mempertimbangkan ekspansi ke wilayah tersebut dalam 3-5 tahun ke depan dengan mengandalkan perangkat inovatif, seperti kacamata VR.
Terkait perang dagang AS dan China, Hu menegaskan bahwa Vivo tidak terpengaruh karena tidak menjual produknya di Amerika Serikat. Selain itu, perusahaan juga mengandalkan pemasok komponen, seperti Sony dari Jepang dan MediaTek dari Taiwan, sehingga tidak terkena dampak langsung dari kebijakan kontrol ekspor AS. (C-13)

