Thailand Makin Dilirik Investor untuk Buat Pusat Data, Bagaimana Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Investasi pusat data menjadi perbincangan hangat, terutama setelah beberapa perusahaan teknologi global memilih Thailand sebagai lokasi investasi untuk wilayah Asia Tenggara.
Thailand baru saja mendapatkan investasi sebesar 90,9 miliar baht (sekitar Rp 43 triliun) untuk pengembangan pusat data dan layanan komputasi. Selain itu, TikTok juga mengumumkan rencana investasi senilai 126,8 miliar baht untuk layanan penyimpanan data di negara tersebut.
Sementara tahun lalu, Google menanamkan investasi US$ 1 miliar di Thailand, disusul Amazon Web Services yang berkomitmen menggelontorkan dana US$ 5 miliar dalam 15 tahun ke depan. Keberhasilan Thailand dalam menarik investor global ini semakin mempertegas posisinya sebagai pusat infrastruktur digital di kawasan.
Baca Juga
Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Dahlian Persadha, mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor utama yang membuat Thailand lebih menarik bagi investor dibandingkan Indonesia. "Thailand memiliki regulasi yang lebih stabil dan insentif investasi menarik bagi perusahaan teknologi global," ujar Pratama saat dihubungi investortrust.id, Senin (24/3/2025).
Ia menambahkan bahwa Thailand telah menerapkan kebijakan pro-investasi melalui inisiatif Thailand 4.0, yang mendukung pengembangan infrastruktur digital secara agresif.
Menurut Pratama, salah satu tantangan utama di Indonesia adalah birokrasi yang masih kompleks dan sering berubah-ubah. "Investor butuh kepastian hukum dalam jangka panjang, sementara di Indonesia, kebijakan sering kali berubah tanpa kejelasan," katanya.
Selain itu, infrastruktur teknologi di Thailand dinilai lebih siap dibandingkan Indonesia, termasuk dalam hal konektivitas internet dan pasokan listrik yang stabil. "Data center membutuhkan suplai listrik besar dan stabil, sementara Indonesia masih memiliki tantangan dalam hal distribusi energi," jelas pakar keamanan siber itu.
Pratama juga menyoroti bahwa Thailand telah mengadopsi Personal Data Protection Act (PDPA) yang sejalan dengan standar internasional, seperti GDPR Uni Eropa. "Keamanan dan perlindungan data adalah faktor krusial bagi perusahaan global. Regulasi yang jelas, seperti PDPA membuat investor lebih percaya diri," katanya.
Potensi besar Indonesia
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki potensi besar untuk menjadi pusat investasi teknologi, terutama karena jumlah pengguna internet yang sangat besar. Dengan lebih dari 200 juta pengguna internet, Indonesia termasuk sebagai pasar digital yang sangat menjanjikan.
Beberapa perusahaan besar, seperti Google, Microsoft, dan Amazon Web Services (AWS) mulai berinvestasi dalam pusat data di Indonesia. Namun, Pratama mengingatkan bahwa skala investasinya masih lebih kecil dibandingkan dengan Thailand atau Singapura. "Indonesia masih perlu mempercepat pembangunan ekosistem digital agar lebih kompetitif," ujarnya.
Baca Juga
Komisi VI DPR Apresiasi Langkah Strategis Telkom Perkuat Ekosistem Data Center Indonesia
Salah satu yang harus jadi perhatian adalah memperbaiki regulasi dan keamanan data. "Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) memang sudah ada, tetapi implementasinya belum optimal. Investor masih menunggu kepastian hukum yang lebih jelas," kata pria 47 tahun itu.
Selain UU PDP, Pratama juga menyoroti pentingnya percepatan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS). Pasalnya, hal ini menciptakan ketidakpastian bagi investor di sektor teknologi.
Menurutnya, absennya regulasi yang mapan dalam keamanan siber juga berdampak pada persepsi bahwa Indonesia memiliki risiko tinggi dalam pengelolaan data. "Investor akan lebih memilih negara yang memiliki kepastian hukum dan standar keamanan siber yang jelas," tegasnya.
Namun demkian, jika Indonesia dapat mengatasi tantangan ini, maka negara memiliki potensi besar untuk menjadi pusat data terbesar di Asia Tenggara. "Dengan kebijakan yang lebih proaktif dan koordinasi lebih baik antara pemerintah, sektor swasta, serta regulator, Indonesia bisa bersaing dengan Thailand dan negara lain di kawasan," pungkasnya. (C-13)

