Mesin Penggerak Ekonomi Indonesia Itu Bernama Industri Kecil dan Menengah (IKM)
JAKARTA, investortrust.id - Target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto diyakini akan dapat membawa Indonesia menjadi negara yang kuat dan tangguh dengan pendapatan per kapita tinggi. Salah satu yang menjadi kunci untuk mewujudkan hal tersebut adalah didorongnya proses industrialisasi.
Jika berbicara mengenai industrialisasi, maka pertumbuhan industri pengolahan nonmigas menjadi tonggaknya, dalam hal ini industri manufaktur. Bagaimana tidak, hingga triwulan III-2024, sumbangsih industri manufaktur terhadap perekonomian nasional adalah sebesar 17,18%.
Dibalik pertumbuhan sektor manufaktur tersebut, terdapat peran penting industri kecil menengah (IKM). IKM menjadi salah satu kekuatan bagi pertumbuhan perekonomian nasional, bahkan saat Indonesia diterpa pandemi Covid-19 sekalipun.
Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sektor IKM mampu memberikan kontribusi sebesar 21,37% dari total output industri pengolahan pada 2022 lalu, ketika pandemi Covid-19 masih menjadi momok bagi industri manufaktur.
Tak sampai di situ, IKM juga saat itu mampu menyerap tenaga kerja hingga sebanyak 12,39 juta orang atau 66,25% dari total tenaga kerja yang ada di sektor industri.
Baca Juga
Kekuatan IKM sebagai tulang punggung perekonomian dari sektor industri manufaktur pun masih menjadi keniscayaan hingga saat ini. Terbaru, populasi IKM tercatat sebanyak 4,52 juta unit usaha yang mendominasi sebesar 99,7% dari total unit usaha industri.
IKM juga tercatat mampu menyumbang sebesar 20,97% dari total nilai output industri, dan telah menyerap tenaga kerja sebanyak 12,37 juta orang berdasarkan proporsi IKM dalam data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas).
"Angka ini menunjukkan peran strategis sektor IKM khususnya dalam hal peningkatan nilai tambah menjadi produk industri lokal, kemudian peran terhadap penyerapan tenaga kerja, serta pemerataan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan,” ungkap Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza dalam acara Gebyar IKMA 2024 beberapa waktu lalu.
Memoles IKM demi Kuasai Pasar Nasional
Dengan kekuatan dan kontribusi yang ditorehkan terhadap perekonomian Indonesia tersebut, IKM diharapkan mampu memiliki daya saing hingga menguasai pasar domestik dan nasional. Kemenperin pun melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan hal tersebut.
Sejak 2022, Kemenperin secara konsisten menggelar perhelatan Gebyar IKMA secara rutin. Langkah ini ditempuh guna membuat IKM Tanah Air berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas produksinya hingga dapat dinikmati oleh pasar domestik
Program Gebyar IKMA tersebut di antaranya adalah One Village One Product (OVOP), Indonesia Food Innovation (IFI), Startup4Industry (S4I), Creative Business Incubator (CBI), IKM kosmetik, penerima Upakarti, IKM binaan BPIPI, serta produk IKM alumni program kompetisi Ditjen IKMA.
Terdapat sebanyak 137 IKM unggulan yang terlibat pada program ini, dan produk yang ditampilkan berasal dari sektor makanan dan minuman, alas kaki, kosmetik, fesyen, kerajinan, teknologi startup dan berbagai macam sektor lain.
Dalam kesempatan berbeda, Ditjen IKMA juga menggelar business matching yang melibatkan berbagai sektor di IKM agar dapat memperkenalkan usaha dan keunggulan produknya secara langsung kepada calon buyer. Diharapkan dapat terjalin kerja sama antara IKM dengan buyer.
"Dalam rangka memperkuat dukungan terhadap IKM agar naik kelas, serta membantu buyer untuk mendapatkan produk IKM yang berkualitas," terang Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita.
Cara lain untuk menjadikan IKM sebagai penguasa pasar nasional dengan peningkatan penjualan produk juga ditempuh Kemenperin, dengan gencar menggaungkan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).
Program ini direalisasikan dengan menggelar Gernas BBI dan Gerakan Nasional Bangga Berwisata di Indonesia (Gernas BBWI) Ite Begawe Fest 2024 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) baru-baru ini.
Langkah ini dilakukan guna memasarkan produk-produk UMKM dan IKM semakin lebar karena digelar bersamaan dengan terbukanya peluang dan potensi perekonomian yang didorong oleh sektor pariwisata.
Baca Juga
Gernas BBI Jakarta Catat Transaksi Rp 300 Miliar, Telkom (TLKM) Borong Produk UMKM
Perluasan Akses Pasar Jadi Tantangan
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan perluasan akses masih menjadi tantangan utama untuk menjadikan IKM sebagai menguasai pasar domestik dan juga menembus pasar ekspor. Ia menilai, kemitraan antara IKM dengan industri besar perlu dilakukan secara masif oleh pemerintah.
“Supaya bisa merambah pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor karena industry besar yang lebih paham, lebih punya kapital, lebih punya network untuk akses pasar yang lebih luas baik di dalam negeri dan juga ekspor. Industry in ikan kecil menengah ini kan sebetulnya membutuhkan itu,” ucap Faisal kepada investortrust.id.
Kedua, menurut Faisal, pemerintah perlu memberikan pendampingan teknis antara IKM dengan industri besar. Cara ini perlu ditempuh agar bisa menghasilkan pemahanan mengenai produk atau barang seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar nasional hingga pasar global.
“Supaya kapasitas standar daripada produk yang dihasilkan itu sesuai dengan yang nanti jadi inputnya untuk industri besar ya, sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri besar, dan industri besar yang lebih paham bagaimana ekspektasi daripada pasar, terutama pasar luar negeri,” terangnya.

