DEN Sebut Nuklir dan 2 Energi Baru Lainnya Wajib Dikembangkan, Apa Itu?
JAKARTA, investortrust.id - Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan, Indonesia membutuhkan dukungan dari energi baru seperti nuklir untuk bisa mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8%, mencapai swasembada energi, dan net zero emission (NZE) 2060. Selain energi surya, angin, biomass, hingga panas bumi, dibutuhkan pengembangan energi baru seperti nuklir, hidrogen, dan amonia.
Anggota DEN, Agus Puji Prasetyono menerangkan, jika ingin mencapai swasembada energi, maka tingkat kemandirian energi haruslah tinggi tanpa impor. Untuk memenuhi hal itu, maka potensi energi yang ada di dalam negeri ini harus ditumbuhkembangkan.
“Kalau kita bicara energi dalam negeri, misalkan kita hanya bicara energi terbarukan, itu tidak akan cukup. Karena energi terbarukan itu maksimal kayak apapun mentoknya di 860 TWh. Tahun 2045, kita perlu 1.700 TWh,” ujar Agus saat ditemui dalam acara Anugerah DEN 2024 di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (10/12/2024).
Baca Juga
ESDM Beberkan Upaya Strategis Mewujudkan Swasembada Energi, Bisa Terwujud?
Agus sejatinya mengapresiasi upaya pemerintah yang sedang menggenjot pengembangan energi terbarukan seperti energi surya, angin, biomass, hingga panas bumi. Namun, itu dinilai tidak cukup sehingga butuh juga pengembangan energi baru seperti nuklir, hidrogen, dan amonia.
“Harus ada energi baru. Namun, kalau kita bicara energi baru, itu pun juga tidak cukup. Energi yang fosil tadi harus kita lengkapi juga dengan CCS dan CCUS,” beber dia.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan, beberapa negara di dunia telah menetapkan kebijakan yang mengurangi masuknya barang yang diproduksi dengan menggunakan energi fosil.
Maka dari itu, jika Indonesia tidak mempersiapkan energi hijau, maka pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto akan terkendala karena adanya larangan ekspor produk-produk Tanah Air.
“Saya yakin kalau misalkan kita sepakat ini kita tumbuhkan, kita bisa keluar dari middle income trap. Tapi masalah energi ini industri. Jadi jangan sampai energi kita dorong, nanti PLN teriak surplus, surplus, surplus. Jadi harus ada industri yang bisa menangkap energi ini,” ujar Agus.
Menurut dia, terdapat banyak industri yang lahap energi seperti pabrik semen, pabrik petrokimia, hingga pabrik pupuk. Kerja sama yang baik dengan industri-industri tersebut diyakini akan membuat Indonesia bisa menjadi negara maju.

