Butuh Rp 1.000 Triliun untuk Investasi Pembangkit 10 Tahun ke Depan
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan pembangkit listrik 68 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung menyebut, untuk itu dibutuhkan nilai investasi sebesar Rp 1.000 triliun.
Yuliot mengungkapkan, kebutuhan listrik ke depan akan semakin banyak. Maka dari itu, pemerintah terus berupaya menciptakan ketahanan energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Untuk kebutuhan pembangkit 10 tahun ke depan, kita membutuhkan investasi sekitar Rp 600 triliun. Sementara untuk jaringan kita membutuhkan investasi sebesar Rp 400 triliun. Jadi nanti untuk di setiap tahapan kita akan mencoba untuk mendetailkan," ujar Yuliot saat ditemui di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Yuliot menekankan, untuk pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) ini maka penting untuk mengembangkan transmisi dalam 10 tahun ke depan. Menurutnya, memerlukan transmisi lebih dari 50.000 km sirkuit, termasuk transmisi tegangan ekstra tinggi sekitar 500 kW sepanjang lebih dari 10.000 km sirkuit.
"Ini potensinya cukup besar. Sementara kalau kita lihat dari jumlah investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan transmisi ini sekitar Rp 400 triliun. Ini merupakan potensi investasi yang bisa dikembangkan baik berasal dari kegiatan investasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam negeri termasuk BUMN," jelas Yuliot.
Baca Juga
RI akan Bangun Pembangkit Listrik Rp 3.710 Triliun, IESR Minta Ini Dipertimbangkan
Selain itu, Yuliot juga mengatakan bahwa pemerintah pun bisa berkolaborasi dengan negara-negara ASEAN dan juga dengan multinasional company. Dengan demikian, pembangunan transmisi sesuai dengan target yang sudah ditetapkan itu bisa dicapai.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu menerangkan, dari 68 GW pembangkit listrik yang direncanakan dibangun dalam 10 tahun ke depan, 47 GW di antaranya adalah pembangkit EBT
"47 GW itu dari renewable, kemudian tadi disampaikan bahwa kita butuh Rp 400 triliun untuk transmisi. Jadi akan kita petakan mana yang prioritas dulu karena kemampuan PLN sedemikian," ucap Jisman.
Foto: Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, dalam acara Electricity Connect di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (20/11/2024). (Investortrust/Hendry Kurniawan)
