PLN: Butuh Investasi Rp 3.000 Triliun untuk Pengembangan Pembangkit Hijau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, bersama pemerintah telah meluncurkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Executive Vice President Perancanaan Strategis Pembangkitan PLN, Parulian Noviandri, mengungkap dalam RUPTL 2025-2034 memuat 76% penambahan kapasitas energi baru dan terbarukan (EBT).
Baca Juga
Menurut Parulian, tantangan besar untuk mewujudkan target tersebut adalah dibutuhkan modal investasi yang besar mencapai Rp 3.000 triliun. "Jadi untuk kita menuju ke sana sesuai RUPTL 2025-2034 ini tantangannya adalah investasi. Dibutuhkan kurang lebih US$ 188 miliar atau kurang lebih hampir Rp 3.000 triliun agar RUPTL itu bisa terwujud di 2034," kata Parulian dalam agenda Investortrust Green Energy Summit 2025 di JW Marriott, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Parulian menjelaskan dalam RUPTL 2025-2034 tersebut, tertuang pengembangan EBT yang bersumber dari angin, matahari, panas bumi, hingga bio energi. Kemudian terdapat pengembangan energi nuklir yang sebesar 500 megawatt.
"Tantangannya untuk pembangkit energi baru terbarukan terkadang memang energi baru terbarukannya spesifik. Lokasi potensinya ada di mana, bebannya ada di mana," ungkapnya.
Ia mencontohkan, pembangkit energi tenaga air, yang idealnya ditempatkan di wilayah, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun, pembangkit energi tenaga air memiliki permintaan besar dari Pulau Jawa.
Tantangan beragam juga ia temukan terhadap pembangkit energi dari sumber lainnya. "Nah untuk itulah kita juga dalam miss match antara lokasi potensi dan demand ini kita akan membangun namanya lanjut ke green supergrid. Jadi tujuannya adalah menghubungkan antara pusat-pusat potensi energi baru terbarukan dengan pusat beban," tuturnya.
Baca Juga
Dari Batu Bara ke Surya hingga Angin, PLN Tancap Gas ke Energi Hijau
Terkait supergrid tersebut, PLN mengungkap dalam RUPTL 2025-2034 memuat kurang 48.000 kilometer transmisi beserta 100.000 lebih gardu induk.
Kemudian tantangan lain energi terbarukan adalah adanya intermitensi. Pembangkit energi terbarukan sering kali tergantung kondisi cuaca. Dalam hitungannya, energi dari matahari biasanya tersedia maksimal hanya 4 jam. Adapun dari 4 jam tersebut, secara rata-rata menjadi energi sesuai dengan kapasitas solar panel.
"Namun, dengan adanya sekarang baterai energy storage system, disimpan dahulu ke dalam baterai, tantangan intermitensi ini bisa kita atasi sehingga kemudian di RUPTL kita itu 5 kali meningkat dari cuma 5 GW menjadi 27 GW di RUPTL terbaru," tuturnya.
