BBRI Menuju Market Cap Rp 1000 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencetak posisi all time high, Kamis (17/7/2023). Ketika dipantau pada pukul 15.15 WIB, saham BBRI bertengger pada posisi Rp 5.625 per saham.
Pada saat yang sama, volume beli atas saham BBRI sebanyak 624.516 lot. Sedangkan penawaran jual sebesar 304.919 lot, atau nyaris dua kali lipat dari permintaan beli. Seiring dengan kenaikan harga saham, nilai kapitalisasi saham BBRI naik menjadi Rp 843,99 triliun, lebih tinggi dibanding penutupan Jumat pekan lalu pada posisi Rp 828,75 triliun.
Seiring dengankenaikan tersebut, PER saham BBRI berada pada posisi 15,61 kali. Jika tren positif ini terus berlanjut, nilai kapitalisasi saham Bank yang dipimpin Sunarso ini berpeluang menggapai posisi Rp 1.000 triliun.
Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Darma mengatakan, untuk mencapai nilai kapitalisasi Rp 1.000 triliun, harga saham BBRI harus mencapai level Rp 6.600 per saham. Namun, jika melihat tingkat likuiditas saat ini dan dukungan fundamental, level psikologis itu bisa segera tercapai. “Tinggal menunggu waktu saja, harusnya bisa tercapai,” ujarnya.
Optimisme ini dilandasi dukungan solid dari sisi ekosistem bisnis, maupun kinerja fundamental BBRI. Setelah mencetak kinerja operasional tertinggi dalam sejarah pada 2022, laba bersih BBRI diprediksi kembali naik tahun ini. “Walaupun tahun lalu sudah mencatatkan laba bersih tertinggi dalam sejarah,” lanjut Suria.
Menurut Suria, kekuatan fundamental itu tergambar pada pertumbuhan kredit, terutama kredit mikro yang tetap tumbuh sehat. “Apalagi sekarang juga didukung Pegadaian dan PNM,” lanjut Suria.
Ekonom & Praktisi Pasar Modal, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, likuiditas saham BBRI yang meningkat merupakan akumasi dari pertumbuhan kinerja fundamental yang kuat. Setelah mencetak rekor laba bersih pada 2022, kinerja fundamental BBRI kembali moncer pada kuartal I 2023.
Dari sisi operasional sebagai bank, Lucky Bayu melihat BBRI tampak atraktif karena mampu mengakselerasi target alokasi kredit sesuai pipeline, yaitu Rp 710 triliun. “Ini parameter sangat penting, karena kalau dilihat secara year on year sudah tumbuh 11%,” ujar Lucky Bayu.
Pertumbuhan kredit pada kisaran 11% ini pernah dilontarkan Direktur Utama BBRI, awal tahun pada kuartal pertama 2023. “Kredit yang masih akan tumbuh di level 10-12% yang didukung segmen UMKM, khususnya mikro dan ultramikro,” ujar Sunarso kala itu.
Saat ini, Lucky menilai, BRI secara bisnis terbukti paling sustain karena dukungan yang kuat dari UMKM yang proses restrukturisasinya sukses pasca Covid-19. Wajar jika likuiditas sahamnya yang sempat tertahan, kini kian meningkat.
Menurut Lucky, dalam satu bulan terakhir foreign buy atas saham BBRI sangat dominan disbanding foreign sell. “Secara turn over transaksi seara more or less masih sama (tidak menurun). Nilainya berkisar Rp 60 triliun,” urai Lucky Bayu.
Ia menambahkan, secara makro, support atas kinerja saham BBRI lebih dominan pada kekuatan PDB Indonesia. Selain perbankan, sektor-sektor seperti industri dasar, tergolong sangat kuat. Kinerja sektor-sektor yang kuat ikut menjadi trigger bagi saham perseron.

