Bagikan

Benarkah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berbahaya? Ini Kata Ahli dan Praktisi

JAKARTA, investortrust.id – Sebagian masyarakat menganggap pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) adalah sumber energi yang sangat berbahaya. Benarkah demikian? Apa kata para ahli dan praktisi energi tentang anggapan tersebut?

Menurut Direktur Utama PT Azet Surya Lestari, Abdul Kholik, anggapan bahwa PLTN sangat berbahaya adalah persepsi yang salah. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dengan Micro Modular Reactor (PLTN-MMR), misalnya, sangat aman, bahkan ramah lingkungan.

Baca Juga

USNC:  Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Hijau di Indonesia Punya Prospek Cerah

“PLTN-MMR sangat aman digunakan. Soal safety issue, sudah tidak ada isu. Soal economics, teknologi ini sangat kompetitif," tegas Abdul Kholik di Tangerang Selatan, Rabu (18/10/2023).

Karena alasan itu pula, kata Kholik, PT Azet Surya Lestari menandatangani letter of intent (LoI) dengan Ultra Safe Nuclear Corporation (USNC) dan Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTRN-BRIN) untuk meneliti dan mengembangkan energi hijau berbasis nuklir. Azet Surya Lestari adalah perusahaan manufaktur dan pengembang tenaga surya.

“Kerja sama ini di antaranya mencakup penelitian reaktor mikro modular di bidang energi hijau berbasir nuklir. Salah satu tujuannya adalah mendukung upaya pemerintah Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060,” tandas dia. 

Baca Juga

Kembangkan Energi Hijau Berbasis Nuklir, Azet Surya Lestari Gandeng USNC dan BRIN

Abdul Kholik menjelaskan, dari sisi keamanan, PLTN-MMR menggunakan tingkat keamanan generasi keempat yang telah dirancang untuk menghindari kecelakaan, seperti terjadi di Chernobyl (Uni Soviet) dan Fukushima (Jepang).

Tragedi Chernobyl merupakan kecelakaan reaktor nuklir terburuk dalam sejarah. Bencana itu terjadi pada 26 April 1986, saat reaktor nomor empat di PLTN Chernobyl, Uni Soviet (dekat Pripyat, Ukraina saat ini), meledak. Dalam peristiwa itu, sekitar 4.000 orang dilaporkan tewas akibat terpapar radiasi nuklir. 

Adapun bencana nuklir Fukushima Daiichi terjadi di PLTN Fukushima I di Fukushima, Jepang. Peristiwaitu dipicu tsunami akibat gempa bumi di Tōhoku pada 11 Maret 2011. Bencana nuklir ini mengakibatkan puluhan orang terluka.

Baca Juga

Kejar Target Emisi Nol Bersih, Pemerintah Kembangkan Hidrogen hingga Nuklir

Tidak Akan Meledak

Managing Director USNC Australia, James Voss menegaskan, tekonologi MMR sangat aman digunakan dan tidak membutuhkan zona evakuasi (evacuation zone).

"Dengan demikian, teknologi MMR dapat dipasang di perkotaan atau permukiman, tidak meleleh, dan tidak akan meledak, serta aman dari bahaya radiasi," tutur dia.

Baca Juga

RI Desak Penghapusan Total Senjata Nuklir

Menurut Kepala PRTRN-BRIN, Topan Setiadiputra,  PLTN-MMR menjadi investasi awal yang bagus untuk mewujudkan ide reaktor nuklir di Indonesia.

"Ini merupakan awal yang baik untuk membawa ide-ide reaktor nuklir di Indonesia dan berharap PLTN-MMR di Indonesia pecah telor," tandas dia. (CR-2)

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024