Kemendag Punya 3 Program Utama Terkait Ekspor, Cek
JAKARTA, Investortrust.id – Kementerian Perdagangan punya tiga program utama yang akan digelar selama lima tahun mendatang, yakni penguatan pasar lokal dan perluasan pasar ekspor, serta peningkatan kemampuan UMKM menembus pasar ekspor.
Hal ini disampaikan Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag Miftah Farid dalam kata sambutannya mewakili Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Mardyana Listyowati.
Kata sambutan disampaikan pada Jumat, (8/11/2024) pada konferensi pers SIAL Interfood ke-25 di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta yang digelar selaras dengan terpilihnya Jakarta sebagai tuan rumah.
“Tiga program utama Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam lima tahun ke depan, yaitu penguatan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan peningkatan UMKM BISA ekspor. BISA ekspor itu artinya Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor. Dukungan Kemendag terhadap suksesnya SIAL Interfood merupakan salah satu bentuk implementasi program-program tersebut,” ungkap Mardyana.
Baca Juga
Terkait Pameran SIAL Interfood ke-25, disampaikan Mardyana dapat mendukung kegiatan promosi dan informasi ekspor produk-produk Indonesia melalui keikutsertaan pada pameran internasional. Menurutnya produk-produk Indonesia masih diminati dan dibutuhkan konsumen global.
“Salah satunya adalah produk makanan serta minuman olahan,” kata Mardyana.
Produk makanan dan minuman olahan menjadi salah satu produk ekspor unggulan Indonesia yang tumbuh 6,81% dalam lima tahun terakhir (2019—2023). Total nilai ekspor makanan dan minuman olahan Indonesia pada Januari—Agustus 2024 sebesar US$ 3,59 miliar, meningkat 6,48% dibandingkan periode yang sama pada 2023.Produk yang paling banyak meraih pangsa pasar dunia yaituhasil laut seperti udang sebesar 6,88%, kepiting sebesar 7,32%, biskuit manis sebesar 7,13%, pasta sebesar 8,26%, serta makanan lainnya 13,07%.
Negara mitra dagang terbesar produk makanan olahan Indonesia adalah Amerika Serikat sebesar US$ 667,23 juta, Filipina sebesar US$ 507,76 juta, Malaysia sebesar US$ 294,31 juta, Tiongkok sebesar US$ 222,28 juta, dan Thailand sebesar US$ 194,15 juta.

