Apindo Sampaikan 3 Catatan dan 5 Rekomendasi untuk Golkan “Prabowonomics”
JAKARTA, investortrust.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan tiga catatan dan lima rekomendasi kepada pemerintah agar kebijakan-kebijakan ekonomi Presiden Prabowo (Prabowonomics) bisa diwujudkan.
Catatan dan rekomendasi itu mengacu pada survei yang baru-baru ini digelar Apindo bertajuk Survei Roadmap Perekonomian Apindo 2024-2029. Rekomendasi ini juga didasarkan pada serangkaian focus group discussion (FGD) yang telah dihelat asosiasi para pebisnis tersebut.
“Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan reformasi struktural yang mencakup tiga hal, yaitu penciptaan lapangan kerja, ekonomi biaya tinggi (high cost economy), serta rendahnya produktivitas dan pembangunan SDM,” kata Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani.
Shinta mengemukakan hal itu pada acara “Apindo Dinner with Chief Editor: Mengawal Transformasi Ekonomi Inklusif, Berkelanjutan dan Berdaya Saing di Era Pemerintahan Baru” di Jakarta, Selasa (05/11/2024) malam.
Baca Juga
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam mengungkapkan, di bidang lapangan kerja, daya serap tenaga kerja terus menyusut dalam satu dekade terakhir. Pada 2013, setiap Rp 1 triliun investasi menciptakan 4.594 tenaga kerja. “Pada 2023, Rp 1 triliun investasi hanya menciptakan 1.285 tenaga kerja,” tutur Bob.
Di bidang regulasi, menurut Ketua Bidang Perdagangan Apindo, Anne Patricia Sutanto, ekonomi biaya tinggi masih terjadi akibat tumpang tindih regulasi perizinan. Perizinan yang banyak, prosedur yang panjang, dan kurangnya transparansi menyebabkan ketidakpastian bisnis (business uncertainty).
Ekonomi biaya tinggi, kata Anne, juga disebabkan disharmoni antara pusat dan daerah, sosialisasi dan diseminasi kebijakan yang tidak optimal, dan sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik (Online Single Submission/OSS) yang masih menyulitkan.
“Selain itu, 20,51% pengusaha menilai inkonsistensi kebijakan dan kepastian hukum berisiko tinggi dan 5,53% menilai sangat tinggi,” ujar dia.
Adapun di bidang SDM, Indonesia masih menghadapi masalah produktivitas dan pembangunan sumber daya berkualitas. “Tingkat produktivitas Indonesia masih U$ 23,87 ribu per tenaga kerja, di bawah rata-rata ASEAN sebesar U$ 24,27 ribu per tenaga kerja,” tandas Ketua Bidang Digital Apindo, Neneng Goenadi.
Neneng menambahkan, penduduk bekerja didominasi lulusan SD ke bawah dengan persentase 36,54%. “Sekitar 29,82% perusahaan masih kesulitan mendapatkan talenta berkualitas,” tandas dia.
5 Hal Prioritas
Shinta Kamdani menjelaskan, Apindo merekomendasikan lima hal prioritas. Rekomendasi pertama mencakup kepastian hukum serta perbaikan kelembagaan dan koordinasi, yang meliputi formulasi regulasi UU Cipta Kerja dan perizinan usaha melalui OSS, menggenjot penerimaan negara, serta meningkatkan koordinasi antar-kementerian dan lembaga (K/L) dan pusat-daerah.
Rekomendasi kedua, menurut Shinta, adalah pengembangan teknologi dan SDM untuk menghasilkan lompatan produktivitas. Rekomendasi ini meliputi reformasi kebijakan ketenagakerjaan, strategi peningkatan SDM dan teknologi, serta kerangka kebijakan dan regulasi yang mendukung.
Baca Juga
Rekomendasi ketiga yaitu optimalisasi kebijakan Industri, perdagangan, investasi, dan persaingan usah yang sehat. “Ini mencakup strategi industrialisasi dan hilirisasi, optimalisasi diplomasi ekonomi dan perdagangan internasional, serta efisiensi pembiayaan dan logistik, serta persaingan yang sehat antara BUMN dan swasta,” papar dia.
Rekomendasi keempat, kata Shinta Kamdani, adalah adopsi environmental, social, and governance (ESG) dan pengembangan industri hijau, yang meliputi penguatan kebijakan, regulasi, dan kelembagaan. “Lainnya yaitu fasilitasi dunia usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengarusutamaan investasi, bisnis, dan pendanaan,” ucap dia.
Adapun rekomendasi kelima meliputi pengembangan infrastruktur, transisi energi, dan sarana prasarana digital. “Rekomendasi ini mencakup investasi infrastruktur dan sistem terintegrasi, arah yang jelas dalam kebijakan transisi energi, serta infrastruktur digital dan SDM yang memadai,” ujar dia.
Baca Juga
Apindo Dorong Perusahaan dan Serikat Pekerja Berdialog soal Kenaikan Upah
Shinta mengemukakan, Prabowonomics terdiri atas Ekonomi Pancasila, Asta Cita, 17 Program Prioritas, 8 Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Wins), target pertumbuhan ekonomi 8%, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Itu belum termasuk program pembangunan 2 juta rumah di desa dan 1 juta apartemen di kota, reformasi birokrasi, penguatan pendidikan, teknologi, digital, hilirisasi, swasembada pangan, energi, dan air, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta penyediaan pupuk dan benih bagi petani.
“Bagi dunia usaha, prioritas pada pembangunan infrastruktur juga masih diperlukan,” tutur Shinta Kamdani.
Daya Beli Mengkhawatirkan
Ketua Dewan Pakar Apindo, Mari Elka Pangestu mengakui, kondisi perekonomian sedang tidak baik-baik saja. “Kondisi kuartal III-2024 mengkhawatirkan. Konsumsi rumah tangga berdasarkan komponen pengeluaran tumbuh 4,91% (year on year/yoy). Itu terendah dalam 13 tahun terakhir,” ujar dia.
Mari menambahkan, menurunnya konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikasi pelemahan daya beli masyarakat. Selama ini, konsumsi rumah tangga dalam komponen pengeluaran PDB tumbuh di atas 5%.
Pada kuartal IV-2024, kata Mari Pangestu, bisa saja pertumbuhan ekonomi berada di bawah 5%, mengingat penyerapan belanja pemerintah juga belum optimal. Soalnya banyak sekali restrukturisasi sehingga kuasa anggaran di kementerian dan lembaga (K/L) belum terbentuk.
“Mudah-mudahan keadaannya lebih baik. Belanja pemerintah bisa didorong. Daya beli masyarakat juga harus naik. Apakah perlu stimulus, misalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12% ditunda untuk jaga daya beli,” papar Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasioanl (DEN) tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statitik (BPS), perekonomian Indonesia tumbuh 1,50% pada kuartal III-2024 terhadap kuartal sebelumnya (quarter to quarter/q to q), sedangkan terhadap kuartal III-2023 atau secara tahunan (yoy) tumbuh 4,95%. Adapun selama tahun kalender (calendar to calendar/c to c), ekonomi domestik tumbuh 5,03%. Pada kuartal II-2024, ekonomi tumbuh 3,79% (q to q) dan pada kuartal III-2023 tumbuh 4,94% (yoy).

