KAS Apresiasi Keberhasilan Prabowo Golkan IEU-CEPA
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Direktur Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) untuk Indonesia dan Timor Leste, Denis Suarsana mengapresiasi keberhasilan Presiden Prabowo mengegolkan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Hal itu merupakan terobosan penting di tengah ketidakstabilan ekonomi.
“Inilah terobosan yang kita butuhkan saat ini terkait kerja sama para pelaku ekonomi dan blok-blok yang masih berkomitmen pada stabilitas ekonomi untuk benar-benar bersatu dan memperkuat stabilitas ekonomi ini," ujar Denis Suarsana dalam diskusi di Gedung The Habibie Center, Kemang, Jakarta, Rabu (16/7/2025).
Diskusi bertema "Resiliensi Demokrasi di Tengah Ketidakstabilan Ekonomi Nasional dan Global" itu digelar The Habibie Center bekerja sama dengan BPSDM Kementerian Dalam Negeri dan KAS, lembaga politik dan pendidikan nirlaba asal Jerman yang dibentuk untuk mendorong demokrasi, supremasi hukum, dan ekonomi pasar sosial di seluruh dunia.
Baca Juga
Komarudin Hidayat: Demokrasi Harus Sehat Tanpa Politik Sandera
Menurut Denis, penyelenggaraan diskusi ini sangat tepat mengingat ekonomi global terus dirundung ketidakpastian yang berdampak pada sistem demokrasi di banyak negara, termasuk Indonesia.
"Ekonomi makin tidak stabil, terutama di tingkat internasional. Ini sangat membutuhkan kerja sama yang lebih kuat di antara negara-negara demokrasi yang benar-benar menghargai tatanan ekonomi berbasis aturan, yang menghargai stabilitas ekonomi," kata dia.
Diskusi itu juga membahas pentingnya memperkuat institusi demokrasi melalui dialog terbuka, transparansi, dan kolaborasi internasional. KAS menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan mitra lokal di Indonesia, termasuk The Habibie Center dan BPSDM Kemendagri guna memperkuat tata kelola demokrasi yang tangguh dan inklusif.
Baca Juga
BI: Tarif Impor AS Turun ke 19% Jadi Sinyal Positif bagi Ekonomi RI
Jaga Ekonomi dan Demokrasi
Sementara itu, Direktur The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengungkapkan, tema diskusi kali ini relevan dan strategis untuk dibahas. Situasi dunia saat ini memperlihatkan bagaimana tingginya tensi politik global.
"Secara nasional, kita merasakan juga saat ini situasi ketidakstabilan ekonomi," ucap dia.
Hasan Ansori menjelaskan, Indonesia menjadi contoh negara yang berhasil melalui berbagai krisis ekonomi. Hal itu dibuktikan oleh ketangguhan ekonomi Indonesia saat diterjang krisis mopneter 1998 dan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 pada 2021-2022.
"Jadi, kalau kita bicara 1998, itu krisis ekonomi paling buruk yang kita hadapi, tapi dari situ kita bisa bangkit dengan demokrasi seperti ini,” tutur dia.
Keberhasilan Indonesia meredam krisis ekonomi sambil menegakkan demokrasi, kata Ansori, tak bisa dilepaskan dari kepemimpinan BJ Habibie (menjabat sebagai Presiden pada 1998 sampai 1999). “Tentu sekali lagi terima kasih kepada Presiden Habibie saat itu,” ujar dia.
Baca Juga
Presiden Prabowo Bangun Sinergi Dua Kekuatan Demokrasi di Brasil
Menghadapi situasi ekonomi yang diliputi ketidakpastian saat ini, menurut Ansori, bangsa Indonesia harus tetap waspada. Di satu sisi, demokrasi harus tetap dijaga. Di sisi lain, ekonomi harus terus dikawal agar tidak terjerumus ke dalam lubang krisis. “Jadi, ekonomi dan demokrasi harus sama-sama resilient," tandas dia.
Ansori menambahkan, kuatnya institusi politik akan membantu demokrasi Indonesia tetap memiliki resiliensi tinggi. Selain itu, kuatnya partisipasi masyarakat sipil turut membuat demokrasi Indonesia kuat dari terpaan krisis ekonomi.
"Di tengah kondisi krisis ekonomi, aspirasi masyarakat sipil harus tetap kita suarakan. Tentunya pemerintah juga harus menempuh kebijakan-kebijakan yang tetap inklusif, tetap transparan, dan akuntabel," papar dia.

