Ekonom Prediksi Uang Fitrah Lebaran Tahun Ini Lebih Rendah dari Tahun Sebelumnya
JAKARTA, investortrust.id - Momen Lebaran atau Idulfitri kerap disertai dengan uang fitrah. Uang sedekah ini biasanya diberikan orang yang lebih tua atau sudah bekerja kepada anak-anak.
Meski demikian, menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto pemberian uang fitrah pada Idulfitri 1445 Hijriyah ini akan mengalami penurunan. Kondisi ini bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi saat lebaran.
“Betul mereka akan mudik, tapi siap-siap saja uang fitrahnya tidak sebesar tahun lalu,” kata Eko saat diskusi publik pada Selasa (26/3/2024).
Eko mengatakan indikasi dari penurunan uang lebaran itu muncul karena tekanan pada kebutuhan pokok. Kenaikan harga komoditas sudah bisa dirasakan sejak November 2023.
Baca Juga
BI Gandeng Perbankan Sediakan 4.713 Titik Penukaran Uang Lebaran
Sejak bulan tersebut, harga beras mengalami kenaikan yang tak bisa dikendalikan pemerintah sampai hari ini. Dia mengatakan harga beras tetap melambung meski klaim panen raya sudah dilakukan di beberapa lokasi.
“Itu menggambarkan potensi laju konsumsi meningkat ini sudah tergerus sejak awal tahun, itu kita khawatirkan bahwa secara musiman memang ekonomi kita di triwulan-I akan lebih tinggi dari triwulan-IV tahun kemarin, tapi tidak setinggi Lebaran tahun lalu,” kata dia.
Selain beras, beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan yaitu daging dan telur. Menurut Eko, meski sudah terjadi berulang tiap tahun, kenaikan harga komoditas daging dan telur membuktikan ketidakmampuan pemerintah mengendalikan harga jelang Lebaran.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, pada awal Maret 2024, mengatakan inflasi saat Ramadan dan Idulfitri memiliki pola. Pada 2019, misalnya, puncak inflasi terjadi pada awal Mei. Kemudian, pada awal 2020 saat pandemi Covid-19 sedang melanda, inflasi tercatat tidak terjadi tekanan karena daya beli masyarakat tidak terlalu tinggi. Sementara itu, pada 2023, inflasi mulai terasa di Maret, namun puncaknya Hari Raya Idulfitri.
Baca Juga
Untuk itu, melihat pola ini, Amalia mengajak para pemimpin daerah dan pemangku kepentingan untuk mengantisipasi harga komoditas lebih awal. Ini diperlukan agar tekanan inflasi saat Ramadan dan Hari Raya tidak terlalu besar.
Amalia mengatakan, kepala daerah perlu mewaspadai lima komoditas yang memicu inflasi saat Ramadan dan Idulfitri. Lima komoditas tersebut antara lain, beras, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng.
“Kalau kita lihat bagaimana inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dan transportasi ini sudah kita sampaikan inflasi kedua kelompok ini selalu meningkat periode Ramadan dan Idulfitri,” ujar Amalia.

