Harga Jagung Pakan Melambung, Pemerintah Ingatkan Potensi Kenaikan Harga Telur
JAKARTA, Investortrust.id - Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Edy Priyono menyoroti kenaikan harga jagung pakan atau jagung kering yang melonjak sebesar Rp 8.000 per kilogram.
Menurutnya harga tersebut sudah sangat jauh di atas harga acuan pembelian (HAP) senilai Rp 5.000 per kilogram.
"Padahal dulu Rp 5.000 itu kita anggap harga yang cukup fair bagi petani maupun bagi peternak," ucapnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (29/1/2024).
Baca Juga
Harga Melonjak hingga 55%, Penyaluran Jagung Pakan SPHP ke Peternak Baru 30.362 Ton
Edy mengungkapkan bahwa kenaikan harga jagung pakan yang tinggi tersebut jika tidak segera distabilkan, maka akan mengancam harga telur. Selain, masyarakat yang bakal merasakan dampak kenaikan harga, hal ini pun akan membuat rugi di tingkat peternak ayam.
"Kalau ini terus terjadi, maka akan mengancam kenaikan harga telur, dan ini kalau terjadi menjelang Ramadan dan Lebaran, itu bisa jadi masalah besar buat kita," ungkap Edy.
Lebih lanjut, Edy pun meyakini kalau masalah utama yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga jagung pakan adalah kurangnya stok. Hal tersebut dikarenakan jumlah produksi panen yang tidak sesuai dengan kebutuhan per bulan jagung pakan di tingkat peternak.
Baca Juga
"Kita yakin bahwa masalahnya adalah ada di pasokan. Karena kalau dilihat berdasarkan area tanam di bulan Oktober dan itu panennya itu bulan Januari 2024, maka perkiraan produksi kita hanya sekitar 700 ribu ton," paparnya.
"Kurang sedikit, padahal kebutuhan perbulan itu lebih dari 1 juta ton. Ini terjadi defisit, dan ini yang menyebabkan harga terlalu tinggi. Kita mendapat keluhan dari lapangan, para peternak layer sudah ampun-ampunan," tambah Edy.

