Penetrasi Internet di Wilayah Rural Masih Rendah, Pengusaha ISP Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan penetrasi internet di Indonesia masih belum merata lantaran tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun infrastruktur jaringan kabel serat optik di wilayah perdesaan.
Berdasarkan Survei Penetrasi Internet 2024 yang dilakukan oleh APJII, tingkat penetrasi internet di Indonesia masih didominasi dari daerah perkotaan atau urban sebesar 82,18% dengan kontribusi mencapai 69,49% secara nasional. Sedangkan penetrasi di daerah perdesaan atau rural mencapai 74% dengan kontribusi hanya 30,51%.
Masih merujuk survei tersebut, mayoritas penetrasi internet masih dikuasai di wilayah Pulau Jawa, yakni sebanyak 83,64% atau berkontribusi sebesar 58,76% secara nasional. Disusul oleh Sumatera sebanyak 77,34% dengan kontribusi 21,17%, Kalimantan 77,42% dengan kontribusi 6,05%, Bali dan Nusa Tenggara 71,08% dengan kontribusi 5,06%, Sulawesi 68,35% dengan kontribusi 6,32%, serta Maluku dan Papua 69,91% dengan kontribusi 2,77%.
Baca Juga
Atasi Kabel Internet Semrawut, Apjatel Siapkan Konsep Tiang Bersama
Secara keseluruhan, penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 79,5%. Artinya, sudah ada 221 juta penduduk Indonesia yang sudah mendapatkan akses internet dari total populasi sekitar 275 juta.
Sekretaris Umum APJII Zulfadly Syam mengatakan penetrasi internet di Indonesia masih belum merata lantaran biaya yang harus dikeluarkan oleh penyedia layanan internet atau internet service provider (ISP) untuk menggelar jaringan kabel serat optik di wilayah perdesaan kelewat mahal. Alhasil, mereka berpikir berulang kali.
"Infrastruktur yang tinggi (biaya pembangunannya), yang mengatakan ini 30% dari ISP. Jadi, infrastruktur yang tinggi (biaya pembangunannya) ini masih menjadi masalah dalam upaya pemerataan koneksi internet di Indonesia. Kita memang tahu bahwa secara geografis Indonesia adalah negara kepulauan," katanya acara The 6th Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (14/8/2024).
Baca Juga
Pembentukan Dewan Media Sosial Berpotensi Hambat Kebebasan Berinternet
Zulfadly mengatakan jaringan kabel fiber optik atau layanan fixed broadband masih menjadi tulang punggung pemerataan akses internet di Indonesia karena keandalannya. Layanan lainnya seperti layanan seluler dan layanan internet berbasis satelit sifatnya adalah pelengkap atau komplementer dari layanan fixed broadband.
“Karena ada yang meyakini juga, ini masih asumsi, bahwa sampai kiamat fiber optik (jaringan kabel serat optik) masih yang terbaik saat ini. Ada yang meyakini fiber optik ini tumpuan untuk interkoneksi yang berkualitas tinggi, bukan bicara tentang satelit atau wireless (nirkabel),” ujarnya.
Berdasarkan catatan APJII, penyediaan akses internet berbasis jaringan kabel optik atau fiber to the home (FTTH) di Indonesia juga masih di bawah 30%. Dengan kata lain, masih banyak rumah di berbagai daerah di Tanah Air yang belum mendapatkan akses internet.
Oleh karena itu, Zulfadly menilai masih ada ruang bagi ISP untuk melakukan ekspansi bisnisnya sekaligus melakukan pemerataan akses internet di Indonesia. Namun, banyak pelaku usaha yang menilai bisnis layanan internet sudah jenuh lantaran pemainnya terlampau banyak.
"Masalahnya sekarang itu perspektif dari pengusahanya. Kadang-kadang mereka itu melihatnya dari tingkat kepadatan penduduk. Misalnya, di suatu daerah itu padat, di sanalah dibangun jaringan kabel fiber optik," tegasnya.
