Operator BTS Terbang Diam-Diam Dekati Bakti Kemenkominfo, Siapa Saja?
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah operator wahana dirgantara super atau high-altitude platform station (HAPS) disebut telah mendekati Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk membuka peluang kerja sama.
HAPS merupakan pesawat nirawak yang berfungsi selayaknya stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) di permukaan tanah. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan mampu memperluas cakupan layanan seluler hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Direktur Utama Bakti Fadhilah Mathar mengungkapkan, beberapa operator HAPS sudah berkomunikasi dengan Bakti untuk membuka peluang kerja sama. Semuanya berasal dari luar negeri dengan membawa proof of concept (PoC) untuk mendemonstrasikan kelayakan dari platform yang dikembangkan agar dapat berjalan optimal.
Baca Juga
Indosat (ISAT) Ungkap Ketertarikan Gunakan BTS Terbang hingga Satelit LEO
“Beberapa waktu lalu sudah ada beberapa operator HAPS yang menghubungi kita (Bakti). Saya enggak tahu nama perusahaannya, tetapi mereka bawa PoC,” katanya ketika ditemui di di gelaran The 6th Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2024 yang digelar di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (14/8/2024).
Fadhilah mengatakan, pihaknya membuka peluang pemanfaatan HAPS untuk menyediakan layanan seluler di wilayah 3T. Terlebih, biaya investasi dan operasional HAPS digadang-gadang jauh lebih efisien, dibandingkan dengan membangun banyak menara BTS di wilayah 3T.
Namun, Fadhilah belum bisa memastikan, apakah pemerintah akan bekerja sama dengan operator HAPS secara langsung atau melalui PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang membawa teknologi tersebut ke Indonesia dan mengoperasikannya mulai 2026.
Baca Juga
BTS Terbang Mitratel (MTEL) Bisa Saingi Starlink? Begini Faktanya
Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu menggandeng AALTO HAPS Ltd. yang memproduksi dan mengoperasikan platform HAPS Zephyr. HAPS yang dikembangkan oleh Mitratel dengan AALTO akan menggunakan nama Flying Tower System (FTS) dan terbang di ketinggian 20-50 km di atas permukaan tanah atau di lapisan stratosfer.
“Kalau Bakti ini setelah regulasi siap baru kita lakukan ya. Kita kasih peluang untuk yg mau membawa PoC-nya,” ujarnya.
Walaupun demikian, Fadhilah menyebut pihaknya mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengimplementasikan teknologi baru untuk menyediakan layanan seluler di wilayah 3T. Pertimbangan tersebut tidak hanya soal efisiensi biaya investasi dan operasional.
“Makin efisien teknologi membantu masyarkat tentu kita terbuka, tetapi kita harus lihat beberapa aspek lain untuk pertimbangan. Aspek regulasinya bagaimana, penyerapan tenaga kerja,” ungkapnya.
Baca Juga
Jajaki BTS Terbang, Begini Dampaknya bagi Prospek Keuangan dan Saham Mitratel (MTEL)
Sementara itu, Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Ismail mengatakan pihaknya akan melakukan kajian untuk memastikan spektrum frekuensi yang akan digunakan oleh HAPS tidak bersinggungan dengan spektrum frekuensi dari layanan telekomunikasi lainnya atau menimbulkan interferensi.
“Pemanfaatannya harus kita pastikan bukan spektrum frekuensi yang sudah digunakan (layanan telekomunikasi) lainnya. Harus terkoordinasi semuanya dengan Kemenkominfo,” katanya ketika ditemui Investortrust di gelaran The 6th Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2024, Rabu (14/8/2024).
Baca Juga
Ismail belum bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana Kemenkominfo selanjutnya untuk menyambut kehadiran HAPS. Namun yang jelas, pihaknya sepenuhnya memberikan dukungan kepada pelaku industri telekomunikasi yang membawa teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi, baik dari sisi biaya investasi maupun operasional.
Sejauh ini, World Radio Communication Conference (WRC) pada akhir tahun lalu sudah menyatakan bahwa HAPS dapat beroperasi di Indonesia dengan menggunakan empat frekuensi di pita 900 MHz, 1800 MHz, 2,1 GHz dan 2,6 GHz. Keempat frekuensi tersebut memiliki ekosistem 4G matang di Indonesia.

