Bukan Gandeng Starlink, Operator Seluler Jepang Pakai Drone untuk Bikin BTS Terbang
JAKARTA, investortrust.id – Operator seluler terbesar di Jepang NTT Docomo Inc. menyiapkan wahana dirgantara super atau high altitude platforms (HAPS) untuk mendukung layanannya mulai 2026.
Mengutip Kyodo News, Rabu (5/6/2024), wahana dirgantara super disiapkan untuk memulihkan konektivitas ketika terjadi bencana alam, khususnya gempa bumi. Seperti diketahui, Jepang merupakan negara yang kerap dilanda gempa bumi, termasuk gempa bumi berskala besar yang diikuti tsunami.
NTT Docomo berinvestasi senilai US$ 100 juta untuk pengembangan wahana dirgantara super ini. Operator seluler tersebut menggandeng raksasa dirgantara Airbus SE untuk membangun sekaligus mengoperasikan wahana tersebut dalam jangka waktu lama.
Baca Juga
Sebagai catatan, NTT Docomo tidak hanya bekerja sama dengan Airbus. Konsorsium wahana dirgantara super operator seluler tersebut juga melibatkan Mizuho Bank dan Development Bank of Japan.
Wahana dirgantara super merupakan pesawat terbang tak berawak yang terbang di ketinggian sekitar 20 km selama berbulan-bulan. Wahana tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) telekomunikasi seluler.
SoftBank Corp., salah satu dari tiga operator seluler terbesar di Jepang diketahui juga sedang mengembangkan wahana dirgantara super seperti halnya NTT Docomo.
Baca Juga
Inkonsistensi, Sumber Kekisruhan Hadirnya Starlink di Indonesia
Wahana dirgantara super diharapkan tidak hanya mendukung konektivitas SoftBank saat situasi bencana. Operator seluler tersebut akan menggunakannya untuk memperluas jangkauan seluler ke daerah terpencil seperti pulau dan daerah pegunungan.
Untuk bertahan di udara, wahana dirgantara super Softbank akan mendapat pasokan tenaga dari matahari. Seluruh sayapnya dibalut oleh panel surya dan akan terbang berputar membentuk lingkaran untuk beberapa bulan.
Baca Juga
Layanan Direct to Cell Starlink Bisa Lebih Murah dari Seluler Konvensional
World Radiocommunication Conference (WRC) pada akhir tahun lalu sudah menyatakan bahwa wahana dirgantara super dapat beroperasi di Indonesia dengan menggunakan empat frekuensi di pita 900 MHz, 1800 MHz, 2,1 GHz dan 2,6 GHz. Keempat frekuensi tersebut memiliki ekosistem 4G matang di Indonesia.
Wahana dirgantara super dapat mengangkut BTS 4G di ketinggian 18 km-25 Km (lapisan stratosfer). Ketinggian tersebut lebih rendah dibandingkan dengan ketinggian satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) seperti Starlink di ketinggian 500 km di atas permukaan bumi.

