Indosat: Starlink Bukan Kompetitor Utama Operator Seluler
Reporter: Rezha Hadyan
JAKARTA, investortrust.id - Emiten operator telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) menganggap kehadiran layanan internet besutan SpaceX, Starlink bukanlah ancaman besar bagi operator seluler dan penyedia layanan internet berbasis jaringan fiber optik.
Director & Chief Business Officer Indosat M Danny Buldansyah menyebut kehadiran Starlink bukan menjadi kompetitor utama bagi operator seluler di Tanah Air. Kehadiran layanan internet berbasis satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) menurutnya lebih mengancam operator internet Very Small Aperture Terminal (VSAT).
"Tetapi menurut saya yang paling banyak (berkompetisi) head to head ya penyelenggara (internet) VSAT, bukan dengan (operator) seluler. Kalau dengan operator seluler, beberapa dari kita memakai service satelite provider yang low orbit itu," katanya ketika ditemui di Kantor Pusat Indosat, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2024).
Sebagai catatan, operator internet VSAT menyediakan layanan berbasis satelit yang menggunakan bandwidth bersama dalam melayani kebutuhan komunikasi data mulai dari 2,4 Kbps hingga 2 Mbps. Karena berbasis satelit, dipastikan tidak akan terputus meski berada di lokasi terpencil sekalipun.
Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan akan ada kerja sama antara operator seluler dengan Starlink untuk ekspansi ke daerah pelosok. Layanan tersebut bisa dijadikan sebagai alternatif jaringan backhaul kepada pengguna akhir.
Baca Juga
Kehadiran Starlink Dituding Bikin Persaingan Operator Telekomunikasi RI Tak Sehat
Untuk layanan internet berbasis jaringan fiber optik atau fibre to home (FTTH) yang juga disediakan oleh Indosat, kehadiran Starlink juga belum menjadi ancaman. Menurut Danny, biaya berlangganan dan instalasi Starlink yang terbilang tinggi dibandingkan dengan layanan internet berbasis jaringan fiber optik.
"Sekarang (biaya berlangganan) Starlink itu Rp750.000 per bulan. Kalau (biaya) berlangganan (layanan internet) FTTH itu kisaran Rp200 ribu. Instalasinya juga sudah sekitar Rp7-8 juta. Apakah ini kompetisi? Dianalisis saja, menurut saya tidak," tuturnya.
Melalui laman resminya, Starlink telah menyatakan bahwa harga langganan paket standar untuk pelanggan pribadi tanpa batas penggunaan (unlimited) adalah Rp750.000 per bulan. Starlink tidak memberikan perincian berapa kecepatan internet yang ditawarkannya untuk pelanggan pribadi.
Selain biaya berlangganan, di awal berlangganan pelanggan juga harus membayar biaya senilai Rp 7.800.000 untuk perangkat keras. Biaya tersebut belum termasuk biaya pengiriman sebesar Rp 345.000 untuk wilayah Jawa maupun luar Jawa.
Baca Juga
Bukan Hanya Starlink
Lebih lanjut, Danny menyebut seiring dengan berjalannya waktu Starlink mendapatkan pesaing yang sepadan di Indonesia. Tentu saja, kehadirannya, termasuk kehadiran Starlink tergantung pada keputusan pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
"Setahun lagi ada OneWeb, Quipper, dan operator lain yang berbasis satelit LEO akan menjadi saingan Starlink. Sekarang bagaimana pemerintah, apakah memperbolehkan semua produk itu masuk Indonesia atau akan disaring lagi," tuturnya.
Jika memang karpet merah untuk Starlink dan kawan-kawannya digelar oleh pemerintah, Danny berharap ada regulasi yang mampu mencegah adanya persaingan tidak sehat. Salah satunya adalah praktik jual rugi atau predatory pricing untuk menjaring banyak pelanggan.
"Pada intinya, kita bersaing yang penting ada regulasi yang mengatur dan di level playing field yang sama, tidak ada keberpihakan," tegasnya.

