Bahlil Jelaskan soal KIT Batang Dibangun Tanpa Master Plan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, buka suara soal Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang yang dibangun tanpa master plan. Diketahui pernyataan Bahlil soal hal tersebut sebelumnya sempat menuai reaksi beragam dari publik.
Bahlil menjelaskan, mulanya pemerintah hendak membangun kawasan industri di daerah Brebes, Jawa Tengah. Namun, menurutnya kawasan Brebes tidak memenuhi sejumlah kriteria, setelah dilakukan survei secara terukur.
Baca Juga
Genjot Utilisasi Gas Bumi Jateng, PGN Salurkan 8 BBTUD ke Produsen Kaca di KIT Batang
"Dia (lokasinya) lebih rendah 2,5 meter dari permukaan jalan dan mayoritas eks tambak udang, kedalamannya rata-rata 2-3 meter, kalau itu yang kita dorong itu agak berat untuk melakukan reklamasi karena waktu KIT dibuat untuk menarik investor yang hengkang," ungkapnya dalam konferensi pers realisasi investasi triwulan II di kantornya, Senin (29/7/2024).
Alih-alih memilih Brebes, Bahlil kemudian menunjuk daerah alternatif, yakni di Batang, yang juga masih di Jawa Tengah. Lokasi pilihan KIT Batang merupakan bekas area perkebunan tebu dan karet. KIT Batang dengan luas lahan 4.300 hektare kemudian dibangun pemerintah dengan gelontoran investasi sebesar Rp 13,3 triliun.
"Kalau tunggu FS (feasibility study) atau master plan satu tahun belum selesai, akhirnya intuisi dipakai bersama tim BKPM di mana arahan saya bikin semi FS dengan kerangka berpikir yang insyaallah baik," ujar Bahlil.
Baca Juga
Meski demikian, Bahlil menekankan kepada tim BKPM untuk tetap merampungkan FS sembari proyek pembangunan KIT Batang terus berjalan. Ia beralasan, keputusan itu diambil karena pembangunan KIT Batang harus segera berjalan.
"Akhirnya tetap kita buat FS karena kalau tidak buat FS celaka, ini bukan investasi kacang goreng," sebutnya.
Pembangunan infrastruktur di klaster fase 1 seluas 450 hektare mayoritas telah rampung dan keseluruhan tenant pada fase 1, sebanyak 14 tenant telah terisi dengan catatan total realisasi nilai investasi sebesar Rp 6,8 triliun dan potensi menyerap hingga 14.800 tenaga kerja.

