Pemerintah Ingin Garap Baterai NMC dan LFP, Mana yang Jadi Prioritas?
JAKARTA, investortrust.id - Memasuki era elektrifikasi, Pemerintah Indonesia pun berusaha menggenjot industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Tidak hanya berusaha menggarap baterai NMC yang merupakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt, tapi juga akan mengembangkan baterai lithium ferro phosphate (LFP).
Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Tjahajana, tidak memungkiri bahwa baterai LFP merupakan sesuatu yang prospektif di masa depan. Namun, Indonesia tidak memiliki fero yang bagus. Maka dari itu, Indonesia akan lebih fokus ke baterai NMC karena punya banyak nikel.
“Fero kita gak bagus. Tapi, kita punya untuk nikel lebih bagus. Walaupun LFP bisa kita kembangkan juga di sini ya. Kalau NMC-nya sudah jago, baterai lain juga kita bisa kembangkan,” kata Agus Tjahajana saat ditemui di Hotel Mulia, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Baca Juga
Dorong Industri Baterai EV Indonesia, Moeldoko: Pemerintahan Wajib Gunakan Kendaraan Listrik
Agus menilai bahwa untuk sekarang LFP itu lebih bagus untuk energy storage. Pasalnya, LFP lebih memiliki berat dan lebih murah. Sehingga, kalau digunakan untuk kendaraan, LFP banyak dipakai untuk kelas menengah ke bawah.
“Artinya kelas-kelas menengah ke bawah, seperti di China ya. Jadi dia itu yang komersial bawah itu pakai LFP. Kenapa? Karena murah. Cuma, jaraknya pendek. Ya misalnya kalau LFP hanya 200-300 kilometer,” papar Agus.
Sementara itu, jika kendaraan menggunakan baterai bertipe NMC maka bisa memiliki jarak tempuh yang lebih jauh. Hanya saja, Agus mengingatkan bahwa harga kendaraan yang menggunakan baterai NMC tentunya lebih mahal.
Baca Juga
Smelter Freeport di Gresik Beroperasi, Bahlil: Ekosistem Baterai Listrik Indonesia Makin Lengkap
“Jadi ini semua adalah optimisasi daripada kebutuhan teknologi pasar. Manusia selalu akan berusaha untuk mencari yang terbaik. Yang terbaik itu dalam apa? Dari teknologi, kemurahan, cost. Kita juga gak bisa, semuanya pakai nikel. Kita harus open saja,” terang dia.
Kendati demikian, Agus tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja di masa depan harga kendaraan yang menggunakan baterai NMC menjadi murah, karena pengaruh dari harga nikel dan faktor-faktor lainnya.
“Teknologi itu berkembang. Bisa nikelnya makin lama, harganya makin murah. Itu bukan sesuatu yang absurd ya. Bisa terjadi. Karena ya begitulah namanya teknologi. Jadi memang, jangan menganggap bahwa forever nikel itu akan lebih mahal daripada LFP. Belum tentu,” tegas Agus.

