Menteri ESDM Tak Mau Ambil Pusing soal Persaingan Baterai NMC dan LFP
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif enggan mempersoalkan persaingan penggunaan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) dan NMC yang merupakan kombinasi Nikel, Mangan, dan Kobalt untuk kendaraan listrik.
Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menggenjot hilirisasi mineral seperti nikel untuk meningkatkan nilai jual. Apalagi Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia.
Kendati demikian, Arifin tidak mempersoalkan jika banyak kendaraan listrik di Indonesia yang menggunakan baterai LFP. Menurutnya, yang terpenting adalah percepatan elektrifikasi kendaraan guna mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
“Bebas (baterainya). Tapi ya sekarang supaya mendorong, supaya cepat terjadi konversi, apa saja boleh. Tapi asal dia punya infrastruktur pendukungnya cukup,” ujar Arifin Tasrif di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (22/3/2024).
Baca Juga
VKTR dan Pertamina Power Teken Kerja Sama Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik
Arifin menilai, jika ekosistem untuk kendaraan listrik sudah siap, seperti stasiun pengisian baterai dan yang lainnya, maka masyarakat akan semakin banyak yang beralih menggunakan EV (electric vehicle).
“Bahan bakunya? Kita kan ada yang dari basis mineral, ada yang juga yang baru kan, LFP. Biarin saja yang mana dulu yang masuk. Yang penting ekosistemnya sudah,” tegas Arifin.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menilai, persaingan produksi baterai LFP dan NMC merupakan hal yang bagus untuk industri.
Baca Juga
APPI Sebut 80% Pembelian Kendaraan Listrik Dilakukan Secara Tunai
“Ya kan bagus kalau ada dua pilihan. Kan kalau hanya ada satu pilihan kita dipaksa ke situ. Teknologi jalan terus. Jadi kita ikuti saja seperti itu. Sama saja dengan baterai ada dua pilihan, nanti juga transisi energi juga kita mau pakai baterai, mau pakai hidrogen,” sebut Dadan Kusdiana.

