Dewan Nasional KEK Sebut KEK Kesehatan Akan Tekan Pengeluaran Devisa RI
JAKARTA, investortrust.id - Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menyampaikan, pengembangan KEK Kesehatan bertujuan untuk menekan pengeluaran devisa Indonesia ke luar negeri.
Plt Kepala Biro Investasi Kerja Sama dan Komunikasi Dewan Nasional KEK, Bambang Wijanarko mengatakan, pengembangan KEK Kesehatan dilatarbelakangi masyarakat Indonesia yang sering berobat ke luar negeri dibandingkan dalam negeri.
“Kita perlu mengundang rumah sakit (bertaraf internasional) ke dalam (negeri). Jadi rumah sakit dibawa standarnya ke Indonesia, bawa dokternya sekalian, bawa peralatan kesehatannya sekalian," kata Bambang di Sekretariat Dewan Nasional KEK, MNC Tower, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2024).
Ia pun berharap, dengan pengembangan KEK Kesehatan di Tanah Air bisa menarik dokter spesialis, obat-obatan hingga teknologi farmasi lainnya dari luar negeri ke Indonesia. Sehingga, masyarakat Indonesia bisa tetap berobat di dalam negeri.
"Dari obat-obatannya juga ada relaksasi, misalnya obatnya sudah tersertifikasi di sana, di sini bisa tanpa BPOM, jadi relaksasi itu yang diharapkan dapat saving devisa," ucap Bambang.
Baca Juga
Di sisi lain, Bambang menyoroti, banyaknya masyarakat Indonesia yang menjalani pengobatan ke luar negeri lantaran standarisasi rumah sakit di luar negeri dinilai jauh lebih baik.
Alhasil, pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan KEK kesehatan di Indonesia yang bertaraf internasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia agar lebih memilih berobat di dalam negeri.
"Mungkin kita nggak melihat dari signifikansi seberapa besar investasinya, tapi lebih bisa mengurangi outflow tadi dengan menghadirkan rumah sakit bertaraf internasional ke Indonesia melalui KEK," imbuhnya.
Berdasarkan informasi yang diterima investortrust.id, Dewan Nasional KEK telah menyepakati tiga usulan KEK baru yang ditargetkan akan menarik investasi sebesar Rp 161 triliun. Plt Sekjen Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang menyatakan, target ratusan triliun rupiah tersebut bisa dicapai apabila ketiga KEK tersebut telah beroperasi secara penuh.
Baca Juga
IHSG Cenderung Rebound, Intip Target Saham MEDC, DOID, MDKA dan DSNG
“Itu yang sedang dipersiapkan PP-nya. Jadi sudah disetujui, tapi untuk bisa ditetapkan menjadi KEK itu kita perlu ada penetapan Peraturan Pemerintah (PP) yang akan ditandatangani oleh Bapak Presiden,” kata Edwin di Sekretariat Dewan Nasional KEK, MNC Tower, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2024).
Sebelumnya, Dewan Nasional KEK telah menyetujui usulan pembentukan KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam, KEK Edutek Medika Internasional di Tangerang dan KEK Industri Hijau Bungku di Morowali melalui Sidang Dewan Nasional di Jakarta pada 29 Mei 2024.
Ketiga KEK baru tersebut dinilai telah memenuhi persyaratan pembentukan KEK sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus dan diharapkan dapat mendorong competitiveness bagi Indonesia, mendorong perekonomian wilayah, dan menciptakan lapangan kerja baru yang sebanding dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang telah diberikan.
Adapun usulan pertama dari tiga KEK yang disetujui yakni KEK di Kabupaten Tangerang yang bergerak di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan internasional dengan pengembangan teknologi digital.
“KEK ini diusulkan oleh PT Surya Inter Wisesa (SIW) anak perusahaan PT Bumi Serpong Damai (BSD) dengan luas lahan sebesar 59,68 hektare,” ujar Edwin beberapa waktu lalu.
KEK di Kabupaten Tangerang ini, menurut Edwin, memiliki target realisasi investasi sebesar Rp 18,8 triliun saat beroperasi penuh dan akan menyerap tenaga kerja sekitar 13.446 orang.
“Kegiatan usaha di KEK di Tangerang meliputi bidang pendidikan dengan beroperasinya Monash University sebagai universitas terbaik ke-42 di dunia, bidang riset, ekonomi digital, dan pengembangan teknologi dengan target 100 start-up, bidang kesehatan dengan pelayanan yang terintegrasi, serta industri kreatif,” sambungnya.
Usulan kedua, lanjut Edwin, adalah KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam yang diinisiasi oleh PT Karunia Praja Pesona dengan komitmen realisasi investasi Rp 6,91 triliun dan serapan tenaga kerja sebanyak 105.406 orang.
Edwin menambahkan, Apollo Hospital India selaku investor utama dalam KEK ini berkomitmen konstruksi pada bidang layanan kesehatan bertaraf internasional dan peningkatan medical-tourism akan rampung dan beroperasi di tahun 2026. “Dengan dibentuknya KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam, diharapkan akan terjadi penghematan devisa hingga Rp 500 miliar,” tandasnya.
Selanjutnya usulan ketiga, yaitu KEK di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah dengan hilirisasi nikel berbasis green industry.
Edwin memaparkan, KEK Industri Hijau Bungku memiliki target investasi sebesar Rp 135,38 triliun bila beroperasi penuh dengan serapan tenaga kerja 136.000 orang.
“KEK yang diusulkan oleh PT Anugrah Tambang Industri tersebut bergerak di bidang produksi dan pengolahan nikel dengan keunggulan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PTLGU), teknologi Fully Enclosed Submerged Electric Furnace, daur ulang limbah tailing process High Pressure Acid Leaching (HPAL), hilirisasi Nickel Matte dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk menjadi prekursor baterai mobil listrik, serta pasokan air baku dengan pembangunan waduk dan bandungan,” pungkasnya.

