Luhut: Ganti Bensin dengan Bioetanol Bisa Pangkas Biaya Kesehatan Rp 38 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, mendorong penggunaan bioetanol sebagai pengganti bensin untuk bahan bakar kendaraan. Menurutnya, substitusi ini akan memberi sejumlah dampak positif.
Luhut menjelaskan bahwa penggunaan bensin seperti yang terjadi saat ini menyebabkan emisi karbon dan polusi udara yang sangat buruk. Namun, dengan menggunakan bioetanol akan lebih ramah lingkungan.
“Masalah penggunaan bensin, kita kan sekarang berencana mau mendorong segera bioetanol masuk, menggantikan bensin, supaya polusi udara ini juga bisa cepat dikurangi. Karena sulfur yang ini kan sampai 500 ppm. Kita mau sulfurnya itu 50 ppm,” kata Luhut, dikutip dari unggahan Instagram pribadinya, Rabu (10/7/2024).
Baca Juga
Pertamina Ungkap Perkembangan Akuisisi Perusahaan Bioetanol dan Gula Brasil
Menurut Luhut, jika tingkat sulfur tersebut dapat dikurangi maka penderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bisa ditekan. Hal ini juga akan menghemat Rp 38 triliun untuk pembayaran BPJS.
“Nah kalau itu terjadi, tingkat sulfur ini tadi dikurangi, itu akan mengurangi orang yang sakit ISPA. Itu juga bisa menghemat sampai Rp 38 triliun ekstra pembayaran BPJS,” terang dia.
Terkait dengan penggunaan bioetanol sebagai pengganti bensin ini, sekarang sejatinya sedang dikerjakan oleh PT Pertamina (Persero).
Baca Juga
Pelni Ajukan Suntikan PMN 2025 Rp 2,5 Triliun untuk Beli 2 Kapal Baru
Mereka bahkan telah mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengakuisisi perusahaan asal Brasil yang memproduksi gula dan bioetanol. “Ini sekarang lagi diproses, dikerjakan oleh Pertamina,” ujar Luhut.
Tercatat, sejak Juli 2023 telah dilakukan market trial produk Pertamax Green 95, yang merupakan bahan bakar campuran RON 92, RON 98, dan 5% bioetanol yang menunjukkan respons pasar cukup positif. Sampai Mei 2024 Pertamax Green 95 sudah dijual di 75 SPBU di Surabaya dan Jakarta.

