Kemendag Rencana Ubah Formula Penghitungan HPE Kelapa Sawit
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan Cost Insurance Freight (CIF) Rotterdam dalam waktu dekat tidak akan digunakan sebagai harga acuan ekspor kelapa sawit Indonesia.
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kemendag Farid Amir mengatakan, CIF Rotterdam kemungkinan tidak lagi digunakan sebagai harga acuan ekspor kelapa sawit Indonesia mulai tahun ini.
Dengan demikian kata dia, ekspor komoditas tersebut hanya akan menggunakan harga acuan dari Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) dan Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau dikenal juga sebagai Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI).
"Rencananya tahap awal ini kita drop (turunkan) dulu Rotterdam-nya. Diusahakan segera tahun ini," katanya dalam acara Investortrust Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Strategi Lanjutan Akselerasi Hilirisasi Crude Palm Oil (CPO)" di Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2024).
Baca Juga
Saleh Husin Ungkap Hilirisasi CPO Bisa Tambah Devisa Indonesia Sebesar US$ 7 Miliar
Farid menyebut, pihaknya juga masih mengkaji apakah memungkinkan jika nantinya ekspor kelapa sawit Indonesia hanya mengacu pada harga acuan dari ICDX atau Bursa CPO Indonesia. Namun, hal tersebut belum bisa terealisasi dalam waktu dekat meskipun Indonesia adalah negara terbesar pengekspor kelapa sawit dunia.
"Kita sedang kaji, jadi begini, kami Kemendag enggak bisa ujug-ujug, serta merta langsung mengubah begitu saja. Harus ada kajian terlebih dahulu, semua stakeholder (pemangku kepentingan) setuju. Kalau stakeholder bilang keberatan ya enggak mungkin (kami lanjutkan)," ujarnya.
Baca Juga
Gapki: Petani Swadaya Penentu Kesuksesan Hilirisasi Sawit di Indonesia
Adapun, alasan CIF Rotterdam tidak akan digunakan lagi sebagai harga acuan ekspor kelapa sawit Indonesia lantaran harganya terpaut jauh dari Bursa CPO Indonesia dan MDEX atau Bursa CPO Malaysia. Harga acuan CIF Rotterdam didasarkan pada harga spot untuk penyerahan bulan terdekat yang tersedia dikurangi biaya asuransi (insurance) dan biaya pengangkutan (freight).
Sementara itu, untuk harga acuan Bursa CPO Indonesia dan Bursa CPO Malaysia didasarkan pada harga penutupan (settlement price) untuk penyerahan bulan terdekat yang tersedia bursa Indonesia dikurangi biaya asuransi (insurance) dan biaya pengangkutan (freight).
Saat ini, penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia menggunakan formula dengan pembobotan sebesar 60% untuk ICDX di samping MDEX (20%) dan CID Rotterdam (20%).
