CBAM Ancam Ekspor Pupuk Indonesia, Amonia Bersih Bisa Jadi Solusi
JAKARTA, investortrust.id – Pemberlakuan regulasi Mekanisme Penyesuaian Batas Karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism/CBAM) oleh Uni Eropa telah mengancam ekspor pupuk Indonesia. Namun, produksi pupuk menggunakan amonia bersih disinyalir bisa menjadi solusi persoalan ini.
Deputi Menteri Koordinator Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves, Jodi Mahardi mengungkapkan, amonia yang merupakan bahan utama dalam produksi pupuk, dapat diproduksi menggunakan hidrogen hijau dan biru, sehingga menjadi lebih bersih.
Jodi menyebutkan, manfaat potensial dari amonia bersih bagi Indonesia antara lain sebagai bahan utama dalam produksi pupuk, yang merupakan industri besar di Indonesia dengan nilai pasar US$ 4,5 miliar.
“Amonia bersih juga dapat membantu mengatasi risiko ekspor pupuk Indonesia senilai US$ 1 miliar yang terancam oleh regulasi CBAM yang diterapkan oleh negara-negara maju,” kata Jodi Mahardi dalam acara Indonesia International Hydrogen Summit 2024 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Baca Juga
Jodi menyampaikan, pasar pupuk Indonesia yang signifikan dan berkembang juga merupakan basis pelanggan yang mapan untuk hidrogen. Sebagai catatan, PT Pupuk Indonesia memproduksi 18,7 juta ton pupuk pada tahun 2023 dengan nilai pasar sebesar US$ 4,5 miliar.
Pembuatan Hidrogen Bersih
Jodi memaparkan, ada dua jenis utama hidrogen bersih, biru dan hijau. Hidrogen biru dibuat dengan memanaskan gas alam untuk memecahnya menjadi hidrogen dan CO2, kemudian menangkap dan menyimpan CO2 tersebut.
“Indonesia sangat cocok untuk memproduksi hidrogen biru karena sumber daya gas alam yang melimpah dan kapasitas penyimpanan CO2 yang signifikan, yang merupakan terbesar kedua dan ketiga di kawasan Asia Pasifik,” jelas dia.
Baca Juga
Pemerintah Ungkap Potensi Indonesia Jadi Pemimpin Produsen Hidrogen di ASEAN
Sementara itu, hidrogen hijau diproduksi dengan menggunakan listrik terbarukan untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Indonesia sendiri memiliki potensi besar untuk produksi hidrogen hijau berkat sumber daya tenaga panas bumi yang luas, yang merupakan terbesar kedua di dunia, dan lebih dari 200 GW kapasitas tenaga surya potensial.
“Kekuatan Indonesia dalam produksi hidrogen bersih juga memberi kami keunggulan dalam sektor amonia bersih. Hidrogen sangat penting untuk produksi amonia, yang secara tradisional padat karbon. Namun dengan memanfaatkan kemampuan produksi hidrogen hijau dan biru kami, Indonesia dapat melakukan dekarbonisasi di sektor tersebut dan memulai produksi amonia bersih yang signifikan,” papar Jodi.

