Kinerja Ekspor Komoditas Andalan Indonesia: Batu Bara dan CPO Lesu, Besi dan Baja Naik
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor tiga komoditas andalan Indonesia, yaitu batu bara, minyak sawit mentah (CPO), serta besi dan baja.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M Habibullah mengatakan, nilai tiga komoditas ini berkontribusi sebesar 27,66% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2024.
Baca Juga
Inilah Komoditas Ekspor Penopang Utama Kenaikan Surplus Neraca Perdagangan
Meski begitu, kinerja ekspor batu bara dan CPO masih lesu. Ekspor batu bara dan CPO mengalami penurunan, baik secara bulanan (month to month/mtm) maupun tahunan (year on year/yoy). Sebaliknya, ekspor besi dan baja meningkat.
“Nilai ekspor batu bara turun 4,04% secara bulanan dan turun 16,85% secara tahunan,” kata Habibullah dalam rilis BPS, di Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Di sisi lain, menurut Habibullah, ekspor CPO turun secara bulanan sebesar 22,19%, sedangkan secara tahunan turun 27,11%. Namun, nilai ekspor besi dan baja meningkat 1,22% secara bulanan dan naik 8,3% secara tahunan.
Habibullah mengatakan, pada Mei 2024, total nilai ekspor mencapai US$ 20,91 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang US$ 0,4 miliar, sektor pertambangan dan lainnya menyumbang US$ 4,21 miliar, dan sektor industri pengolahan berkontribusi US$ 16,3 miliar.
Nilai ekspor nonmigas berdasarkan sektor ditopang industri pengolahan. “Nilai industri pengolahan naik 16,4% yang memberi andil 11,71%. Peningkatan secara bulanan ini disebabkan oleh meningkatnya barang nikel, perlengkapan listrik, dan barang perhiasan dan barang berharga,” papar dia.
Secara tahunan, kata Habibullah, semua sektor mengalami peningkatan ekspor, kecuali sektor pertambangan dan lainnya yang turun 5,05% akibat rendahnya ekspor batu bara.
Baca Juga
Ekspor Melonjak, Surpus Neraca Perdagangan Terbang 585,86% ke US$ 2,9 Miliar
Habibullah mengungkapkan, neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2024 mengalami surplus US$ 2,93 miliar, ditopang surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 4,26 miliar. Utamanya pada bahan bakar mineral, minyak dan lemak dan minyak hewan atau nabati, dan besi dan baja.
Surplus neraca perdagangan nonmigas Mei 2024 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. “Pada yang saat yang sama, neraca perdagangan migas mengalami defisit US$ 1,33 miliar,” tutur dia.

