Seberapa Besar Kemampuan ElaElo untuk Saingi X?
JAKARTA, investortrust.id - Jagat maya heboh dengan hadirnya Elaelo, platform media sosial yang mengeklaim dirinya sebagai pengganti X (d/h Twitter) apabila nantinya benar-benar platform milik Enon Musk tersebut diblokir oleh pemerintah. Platform ElaElo diketahui merupakan platform buatan dalam negeri.
Sebagai catatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan akan memblokir X apabila masih memperbolehkan penayangan konten pornografi. Tentunya, warganet membutuhkan platform pengganti apabila tidak bisa lagi menggunakan platform pendiri kelompok usaha mobil listrik Tesla tersebut.
Terlepas dari segala kontroversinya lantaran mencatut nama Kemenkominfo dan menggunakan lambang negara mampukah Elaelo menggantikan X yang sudah lebih dari satu dekade digunakan di Tanah Air?
Pengamat teknologi internet dari ID Institute Alfons Tanujaya menilai Elaelo sulit untuk menggantikan X yang jumlah penggunanya lebih dari 27 juta di seluruh Indonesia. Selain sudah lama populer, sumber daya yang dimiliki oleh X juga sulit disaingi oleh platform digital lokal.
“X yang dulunya Twitter itu penggunanya banyak, di Indonesia juga banyak, sampai 27 juta (pengguna). Itu mereka mampu enggak server-nya (peladen) menghadapi pengguna segitu banyak? Modalnya kuat enggak buat bakar duit dulu? Rugi dulu bertahun-tahun,” katanya ketika dihubungi Investortrust, Selasa (18/6/2024).
Baca Juga
Elaelo Pengganti X Terdaftar Bukan Atas Nama Pemerintah, Jadi Punya Siapa?
Menurut Alfons, mengalahkan platform media sosial yang sudah digunakan oleh banyak pengguna bukan hal mudah, bahkan nyaris mustahil. Berkaca pada Threads yang disiapkan oleh Meta Platforms untuk menantang X.
“Threads saja yang dimiliki Meta sulit melawan X kok, padahal sumber dayanya jelas enggak main-main. Server ada, uang untuk bakar duit ada, belum lagi integrasi dengan Instagram dan Facebook, tetap saja belum bisa mengalahkan,” tuturnya.
Alfons meragukan kemampuan Elaelo setelah tumbangnya situs https://elaelo.id pada Senin (18/6/2024). Situs tersebut diduga tumbang karena trafiknya kelewat tinggi setelah viral di jagat maya beberapa waktu lalu.
“Trafiknya tinggi server langsung tumbang, bagaimana nanti kalau pengguna bertambah? Sumber daya server-nya kuat enggak? Belum lagi ancaman-ancaman keamanan siber terhadap data pribadi pengguna, ini juha perlu diperhatikan,” paparnya.
Walaupun demikian, Alfons berharap Elaelo atau platform digital lainnya karya anak bangsa bisa berkembang dengan banyak pengguna, terutama di dalam negeri. Tujuannya jelas, agar masyarakat Indonesia tak ketergantungan dengan platform digital asing yang berpotensi mengancam kedaulatan data.
X Pasti Diblokir
Kemenkominfo sebelumnya memastikan akan segera memblokir akses ke X lantaran memperbolehkan penayangan konten pornografi tayang di platform tersebut.
Baca Juga
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan pemblokiran dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi mengenai kebijakan konten dewasa di laman pusat bantuan X. Kebijakan tersebut diketahui sudah berlaku sejak Mei 2024.
Semmy, demikian sapaan akrabnya, menyebut sebelum pemblokiran akses dilakukan, pihaknya juga akan mengirimkan surat terkait dengan temuan tersebut ke X.
"Ini mungkin kita surati dengan segera. Pasti diblokir ini. Kalau sudah membolehkan kayak gini. Makanya kita pelajari ini (kebijakannya)," katanya kepada awak media dalam sebuah diskusi di Gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Jumat (14/6/2024).
Sebagai catatan, kebijakan konten dewasa X untuk pengguna di Indonesia memperbolehkan pengguna untuk dapat membuat, mendistribusikan, dan mengakses konten bertema seksual selama konten tersebut dibuat dan didistribusikan atas dasar kesepakatan bersama. Ekspresi seksual, baik secara visual maupun tertulis, dapat menjadi bentuk ekspresi seni yang sah.
"Kami mendukung kebebasan orang dewasa untuk menikmati dan menciptakan konten yang menunjukkan keyakinan, keinginan, dan pengalaman mereka sendiri, termasuk yang berkaitan dengan seksualitas. Kami mengimbangi kebebasan ini dengan membatasi kemunculan Konten Dewasa pada anak-anak atau pengguna dewasa yang memilih untuk tidak melihatnya," tulis X dalam laman resminya.
X juga melarang konten yang mempromosikan eksploitasi, penolakan, objektifikasi, seksualitas, atau pelecehan terhadap anak di bawah umur, dan perilaku cabul. Selain itu platform tersebut juga melarang penyebaran Konten Dewasa di tempat yang mudah terlihat, seperti foto profil atau banner.

