Kemenkominfo: Ada Potensi Hadirnya Pesaing Baru Starlink di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan Indonesia akan kedatangan pemain satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) selain Starlink, yang belum lama ini meluncurkan layanan internetnya.
Menurut Ketua Tim Perizinan Penyelenggaraan Telekomunikasi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo Falatehan, sudah ada operator satelit yang akan mengoperasikan satelit LEO-nya untuk kebutuhan telekomunikasi di Indonesia. Sayangnya, dia enggan memberikan penjelasan mengenai operator tersebut.
"Ada beberapa (operator satelit) yang membawa teknologi satelit LEO masuk ke Indonesia," katanya dalam diskusi bertajuk "Mengukur Dampak Kehadiran Starlink terhadap Industri Telekomunikasi dan Daya Beli Masyarakat" di Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2024).
Namun yang jelas, operator satelit LEO yang akan masuk ke Indonesia wajib mengikuti regulasi dari pemerintah. Mulai dari memenuhi persyaratan izin usaha, mengantongi Izin Stasiun Radio (ISR), hingga mematuhi urusan perpajakan tanpa terkecuali.
"Konsekuensinya harus ikuti regulasi yang ada di Indonesia. Seperti Starlink itu awalnya cuma mau jualan over the top (OTT) layani Indonesia tanpa buat perusahaan di Indonesia sampai sekarang akhirnya mau buat perusahaan dan buka kantor di Indonesia. Itu progres dan bisa diikuti oleh yang lainnya untuk berbisnis di Indonesia dan patuh terhadap regulasi," tuturnya.
Baca Juga
KKP Pertimbangkan Operator Satelit LEO Selain Starlink untuk Kapal Pengawas
Falatehan juga mengungkapkan sebenarnya Starlink bukanlah pemain tunggal layanan telekomunikasi berbasis satelit LEO di Indonesia. Sebelum perusahaan milik Elon Musk itu hadir, OneWeb sudah menginjakkan kakinya terlebih dahulu di Tanah Air lewat PT Dwi Tunggal Putra (DTP) yang menyediakan layanan internet BuanterOne.
OneWeb merupakan layanan telekomunikasi berbasis satelit LEO milik perusahaan satelit asal Inggris Eutelsat Group yang diperkenalkan pada Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2023. OneWeb memiliki 634 satelit LEO yang mengorbit bumi dan sebanyak 18 di antaranya mengorbit di langit Indonesia.
"OneWeb itu beli perusahaan yang punya izin jartup (jaringan tertutup) satelit VSAT (very-small aperture terminal) Dwi Tunggal Putra. Masuk sebagai pemegang saham dan membawa teknologinya," tutur Falatehan.
Selain satelit-satelit Starlink dan OneWeb, satelit LEO lain yang juga berada di langit Indonesia adalah satelit cuaca dan pendidikan milik instansi pemerintahan maupun pendidikan. Kemudian menurut Falatehan ada juga satelit yang membawa modul radio amatir hasil kerja sama ilmuwan dari Universitas Surya dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).
"Untuk satelit LEO lokal sejauh ini baru digunakan untuk itu dan belum ada untuk (kebutuhan) telekomunikasi. Untuk melayani Indonesia karena orbitnya rendah butuh banyak satelit berbeda dengan satelit GEO (geostationary earth orbit atau orbit bumi geostasioner) yang mengikuti rotasi bumi," ujarnya.
Mengapa operator satelit di Indonesia masih belum mengikuti jejak Starlink yang memberikan layanan internet berbasis satelit LEO secara mandiri?
Direktur Pengembangan PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) Anggoro Kurnianto Widiawan mengatakan mengoperasikan satelit LEO bukanlah hal mudah. Sebab, aturan yang harus dipenuhi untuk meluncurkan satelit tersebut secara global terbilang kompleks.
Baca Juga
Ingin Saingi Starlink, Kemenkominfo Minta 13.400 Slot Satelit LEO
Kemudian dari sisi biaya investasi juga sangat memberatkan. Sebab, dibutuhkan banyak satelit hingga ribuan jumlahnya untuk menggelar layanan berbasis satelit LEO.
“Regulasinya lebih kompleks secara internasional. Kemudian investasinya juga berlanjut harus meluncurkan satelit terus menerus dalam jumlah banyak untuk bisa terkoneksi dengan pengguna. Bukan investasi di awal yang besar sekali,” katanya dalam konferensi pers Asia Pacific Satellite Communication System (APSAT) International Conference ke-20 di Fairmont Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (4/6/2024).
Satelit LEO membutuhkan jumlah yang banyak lantaran mengelilingi bumi lebih cepat daripada rotasi Bumi. Dengan demikian, dibutuhkan lebih dari satu satelit untuk dapat melayani satu lokasi di bumi secara berkelanjutan.
Berbeda dengan satelit GEO yang p periode waktu mengitari bumi sama dengan waktu rotasi bumi. Oleh karena itu, hanya dibutuhkan satu satelit untuk melayani satu lokasi di bumi secara terus menerus.
Bahkan, cukup hanya tiga satelit dengan cakupan global untuk dapat melayani seluruh lokasi di bumi. Oleh karena itu, banyak operator satelit di dunia yang menggunakan satelit GEO untuk menggelar layanannya ke pengguna.
“Satelit GEO ini seperti menara telekomunikasi tetapi di langit, ya di situ saja dia enggak kemana-kemana. Kalau satelit LEO misalnya cakupan untuk wilayah Jakarta satu satelit itu baru akan bisa melayani Jakarta 14 hari kemudian. Makanya butuh banyak satelit,” paparnya.
Dari sisi umur pemakaian, satelit LEO juga berumur lebih pendek dibandingkan dengan satelit GEO. Satelit LEO hanya bisa bertahan di rentang 5-7 tahun, sementara satelit GEO bisa digunakan hingga belasan atau bahkan puluhan tahun.

