Gandeng CGS, IESR Lakukan Studi Tentukan Prioritas PLTU yang Harus Pensiun Dini
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa memaparkan, pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh batu bara sekitar 60-70%. Ia tidak memungkiri bahwa harus dilakukan pemensiunan dini PLTU untuk mengurangi emisi karbon.
Kendati demikian, adanya kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk menjaga biaya listrik agar tetap terjangkau, menciptakan ketergantungan dan menyulitkan PT PLN (Persero) untuk beralih dari energi fosil ke energi terbarukan.
Maka dari itu, IESR menggandeng Center for Global Sustainability (CGS) Universitas Maryland melakukan studi dalam menganalisis pembangkit listrik on grid dan off grid PLN yang menggunakan beberapa strategi untuk mengurangi kapasitas PLTU, operasi PLTU yang fleksibel, pemensiunan dini, pembakaran biomassa, substitusi energi terbarukan, pembatalan konstruksi, koneksi jaringan, dan penyimpanan karbon.
“Studi ini memberikan strategi bottom up coal phase down, yaitu mengusulkan strategi prioritas untuk tiap unit PLTU berdasarkan karakteristik PLTU dan kesesuaian peran PLTU untuk kebutuhan listrik di sistem masing-masing. Rekomendasi strategi ini dapat melengkapi jalur JETP yang sudah ada saat ini,” kata Fabby Tumiwa dalam peluncuran laporan, Selasa (4/6/2024).
Baca Juga
Kemenkeu Gandeng SMI Cari Pendanaan Kreatif untuk Pensiunkan Dini PLTU
Direktur CGS, Nate Hulman, mengungkapkan bahwa acara peluncuran kajian ini menjadi platform untuk mendiskusikan cara Indonesia dapat mengimplementasikan transisi energi bersih dan berkontribusi terhadap target global 1,5 derajat Celcius.
“Penelitian baru kami menawarkan strategi yang ambisius dan transformatif yang sangat penting untuk memberikan kerangka kerja holistik baru agar strategi transisi selaras dengan target 1,5 derajat Celcius dengan mempertimbangkan tujuan nasional,” ujar Nate Hulman.
Laporan 1.5°C-Aligned Coal Power Transition Pathways in Indonesia menemukan antara tahun 2025 dan 2050, penggunaan co-firing biomassa dengan sumber berkelanjutan pada 80 unit PLTU batu bara (13 GW) off-grid dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif.
Sementara itu, pengakhiran operasional secara dini PLTU batu bara bisa diterapkan pada 105 unit PLTU (25 GW) yang dapat berkontribusi terhadap hampir setengah dari pengurangan emisi kumulatif pembangkit listrik on-grid.
Baca Juga
Biaya Operasional PLTU Terus Meningkat, Energi Terbarukan Bisa Jadi Solusi
“Pengurangan emisi di sistem kelistrikan PLN perlu lebih digenjot untuk mengimbangi pertumbuhan emisi batu bara off-grid/captive dalam waktu dekat, sehingga mitigasi di sistem kelistrikan PLN berkontribusi terhadap 68% pengurangan emisi kumulatif hingga tahun 2050,” sebut Manajer Program Transformasi Energi IESR, Deon Arinaldo.
Untuk mencapai percepatan transisi energi batu bara ini, diperlukan transformasi yang signifikan pada sistem ketenagalistrikan Indonesia. Mengintegrasikan sumber energi terbarukan yang semakin meningkat akan membutuhkan teknologi penyimpanan baru, perluasan infrastruktur jaringan listrik, dan operasi yang stabil dan fleksibel.
Analisis tersebut mengungkapkan bahwa biaya pembangkitan listrik (biaya operasi pembangkit dan bahan bakar) turun hingga 21% pada tahun 2030 dan 75% pada 2050, serta mengurangi emisi dari sektor ketenagalistrikan hingga 50% pada 2040. Di sisi lain, terdapat kebutuhan investasi tambahan untuk implementasi dari strategi transisi.
“Investasi yang signifikan dalam teknologi penyimpanan baru, perluasan jaringan listrik, serta operasi yang stabil dan fleksibel sangat penting untuk membangun sistem tenaga listrik yang tangguh di Indonesia yang berpusat pada energi terbarukan,” kata CGS Research Associate, Maria Borrero.
Baca Juga
Pensiun Dini dan Moratorium PLTU Masuk Prioritas Program EBT

