Layanan Direct to Cell Starlink Bisa Lebih Murah dari Seluler Konvensional
JAKARTA, investortrust.id - Layanan Direct to Cell yang akan diluncurkan Starlink pada September 2024 akan mengancam industri telekomunikasi seluler di Tanah Air dari hulu hingga hilir lantaran berpotensi hadir dengan biaya layanan lebih rendah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Indonesia (Sekjen ASII) Sigit Jatiputro mengatakan komponen biaya untuk menyelenggarakan layanan seluler berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) bisa jauh lebih rendah dengan cakupan luas. Terlebih untuk penyelenggaraan layanan seluler di wilayah terpencil dengan tantangan kondisi geografis.
“Itu kan juga bisa berubah cost-nya (biayanya). Dia (Starlink) enggak perlu bangun tower (menara stasiun pemancar atau base transceiver station/BTS). Kalau bangun tower ini ada macam-macam komponen biaya,” katanya ketika ditemui di sela-sela acara Asia Pacific Satelite Communication System International Conference (APSAT) ke-20 di Fairmont Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (4/6/2024).
Komponen biaya yang dimaksud oleh Sigit tidak hanya biaya pembangunan menara dan logistik. Di luar itu, operator seluler harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk perizinan ke pemerintah daerah, biaya kompensasi ke warga sekitar, dan komponen biaya lainnya, baik resmi maupun tidak resmi atau pungutan liar (pungli).
Baca Juga
Hadapi Starlink, Operator Satelit dan Seluler Perlu Kolaborasi Layanan Konvergensi
“Starlink enggak perlu itu semua. Ya dia sudah beroperasi semua di atas satelitnya. Tinggal nambah jumlah satelitnya saja yang bisa untuk Direct to Cell,” ujarnya.
Layanan dari perusahaan milik Elon Musk ini juga unggul dari sisi cakupan wilayah. Tidak ada lagi wilayah yang tidak mendapatkan sinyal atau titik mati (blank spot) seperti layanan seluler yang masih mengandalkan menara BTS.
Saat ini, belum ada negara manapun yang mengatur secara khusus layanan seluler berbasis satelit seperti Direct to Cell Starlink. Apakah nantinya tetap memerlukan modul identitas pelanggan atau subscriber identity module (SIM) atau tidak masih belum diketahui.
“Masih grey area (abu-abu) dan cukup membingungkan. Makanya itu diuji coba di Rwanda karena regulasinya di sana semua boleh, tidak terlalu clear (jelas),” papar Sigit.
Baca Juga
Regulasi yang dimaksud adalah spektrum frekuensi yang digunakan. Spektrum frekuensi yang digunakan untuk uji coba layanan Direct to Cell di Rwanda adalah spektrum frekuensi untuk layanan seluler.
Tentu saja, hal ini menjadi sorotan lantaran persamaan spektrum frekuensi itu berpotensi mengganggu satu sama lain atau terjadi interferensi. Apalagi jika Starlink enggan berkolaborasi dengan operator seluler di dalam negeri dan menggelar layanannya begitu saja tanpa lebih dahulu melakukan koordinasi.
Masalah akan menjadi besar jika Starlink diperbolehkan untuk membuat identitas pelanggan layanan Direct to Cell-nya menggunakan nomor layaknya operator seluler. Jika itu diperbolehkan dan benar-benar terwujud, maka tamat sudah riwayat operator seluler.
“Kelebihan layanan seluler mungkin ada numbering (nomor), tetapi kemudian hari kita enggak tahu kalau Starlink juga buat nomor, jadi operator satelit dan seluler di waktu yang sama, sulit sudah,” ujarnya.
Mengutip Teslarati pada Senin (3/6/2024), Starlink sudah mengajukan surat ke Komisi Komunikasi Federal atau Federal Communications Commission (FCC) terkait peluncuran layanan Direct to Cell. Starlink juga menyatakan sudah mengikuti aturan terbaru terkait cakupan tambahan dari luar angkasa atau supplemental coverage from space (SCS)
“SpaceX mendukung hampir semua aturan terbaru FCC terkait SCS dan berharap dapat meluncurkan layanan komersial langsung ke seluler di Amerika Serikat pada musim gugur ini,” demikian bunyi surat pengajuan Starlink ke FCC.
Melalui surat pengajuan tersebut juga diketahui rencana Starlink untuk layanan Direct to Cell. Untuk tahap awal, layanan tersebut akan meliputi layanan suara atau telepon, pesan singkat atau short message service (SMS), dan penelusuran web menggunakan ponsel yang bisa terhubung ke jaringan LTE atau Long-Term Evolution (LTE).
Layanan Direct to Cell akan terus dikembangkan Starlink. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan akan hadir fitur-fitur yang lebih canggih pada masa mendatang lewat fitur tersebut.

