KPPU Bakal Bahas Polemik Starlink dengan Kemenkominfo
JAKARTA, investortrust.id - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan menggelar diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) guna membahas kehadiran Starlink yang memicu polemik.
Berdasarkan surat undangan yang diterima investortrust.id, Selasa (28/5/2024), FGD yang membahas Starlink akan digelar di Gedung KPPU, Jl Ir H Juanda No 36, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2024), pukul 13.00 WIB. Anggota KPPU Aru Armando dan Eugenia Mardanugraha dijadwalkan memimpin diskusi.
Baca Juga
APJII Minta Pemerintah Kaji Ulang Izin Layanan Ritel Starlink
Direktur Telekomunikasi Direktorat Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen PPI Kemenkominfo), Aju Widya Sari dikabarkan akan hadir dalam FGD Starlink bersama KPPU. Belum ada informasi lebih lanjut apakah ada perwakilan dari PT Starlink Services Indonesia yang ikut serta dalam diskusi tersebut.
Salah satu isu yang akan dibahas adalah potensi dijalankannya strategi predatory pricing (banting harga untuk menjatuhkan pesaing) oleh Starlink di Indonesia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, SpaceX Corp memberikan penawaran khusus bagi pelanggan Starlink di Indonesia. Penawaran berupa potongan harga atau diskon itu diberikan tak lama setelah layanan tersebut resmi diluncurkan, Minggu (19/5/2024), di Denpasar, Bali.
Penawaran khusus yang ditawarkan adalah penurunan harga perangkat keras Starlink untuk layanan residensial (rumah) dan jelajah (bepergian). Kini, perangkat tersebut dibanderol dengan harga Rp 4,68 juta dari sebelumnya Rp 7,8 juta.
Ketika ditemui di sela-sela acara Ericsson Imagine Live, Selasa (28/5/2024), di Jakarta Selatan, Aju Widya Sari menyebutkan, dibutuhkan proses panjang untuk mengetahui apakah Starlink berpotensi menjalankan strategi predatory pricing.
"Kita belum bisa melihat apakah terjadi predatory pricing. Biarkan berusaha dulu, anggapan predatory pricing itu harus diuji untuk mengetahui apakah mengarah ke sana atau tidak," tutur dia.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga mengungkapkan, potensi predatory pricing Starlink tidak hanya muncul dari potongan harga perangkat. Biaya berlangganan layanan Starlink di Indonesia juga jauh lebih murah dibandingkan harga global.
Mengacu laman resmi Starlink, di Amerika Serikat (AS), harga layanan termurah atau residensial Starlink dibanderol US$ 120 per bulan atau sekitar Rp 1,93 juta per bulan (asumsi kurs Rp 16.063 per US$ 1). Sedangkan di Indonesia, layanan yang sama ditawarkan dengan harga Rp 750.000 per bulan.
“Dari fakta-fakta di lapangan, seperti harga layanan mereka lebih murah dibandingkan dengan harga global,” kata Arif Angga dalam konferensi pers virtual APJII bertajuk “Perlakuan Khusus Starlink Buat Siapa dan Untuk Daerah Mana?”, Senin (27/5/2024).
Baca Juga
Starlink Berpotensi Predatory Pricing, Menkominfo: Bukan Ranah Kami untuk Menilai
Walaupun demikian, Arif menyatakan, setiap ISP di Indonesia, termasuk Starlink, berhak memberikan diskon promo kepada pelanggannya. Secara bisnis, pemberian diskon perangkat hingga 40% oleh Starlink ini hal yang wajar, akan tetapi jangka waktunya perlu dibatasi.
Menurut Arif, hal itu perlu dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan dan keseimbangan industri telekomunikasi di Indonesia. Dia berharap pemerintah lebih memperhatikan dan menghargai kerja keras yang telah dilakukan ISP di dalam negeri.
"APJII berharap pemerintah membuka kembali diskusi dan mempertimbangkan ulang keputusan terkait lisensi Starlink, pembagian wilayah cakupan operasional, dan kewibawaan perizinan dengan memperhatikan masukan dari seluruh pemangku kepentingan," tegas dia.
