Wow! 36.000 Ancaman Web per Hari Menargetkan Bisnis di Asia Tenggara
JAKARTA, investortrust.id - Perusahaan keamanan siber Kaspersky mendeteksi dan memblokir lebih dari 13 juta ancaman web untuk bisnis di Asia Tenggara sepanjang 2023. Data historis Kaspersky mengungkap adanya lonjakan sebesar 31% dibandingkan dengan jumlah yang terdeteksi pada 2020.
Maka setiap harinya, penjahat dunia maya meluncurkan rata-rata 36.552 serangan daring yang menargetkan bisnis di wilayah tersebut pada tahun lalu.
Ancaman berbasis web atau ancaman daring adalah kategori risiko siber yang dapat menyebabkan kejadian atau tindakan yang tidak diinginkan melalui internet. Ancaman web dimungkinkan oleh kerentanan pengguna akhir, pengembang/operator layanan web, atau layanan web itu sendiri. Terlepas dari tujuan atau penyebabnya, konsekuensi dari ancaman web dapat merugikan individu dan organisasi.
General Manager Asia Tenggara di Kaspersky Yeo Siang Tiong mengatakan, pelaku ancaman menargetkan bisnis di Filipina 243% lebih banyak pada tahun 2023 dibandingkan tahun 2022 (dari 492.567 menjadi 1.691.167). Perusahaan-perusahaan di Singapura juga menghadapi 86% lebih banyak ancaman web dibandingkan tahun lalu (dari 889.093 menjadi 1.653.726). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Thailand mengalami peningkatan yang lebih kecil, akan tetapi masih signifikan sebesar 24% (dari 1.232.311 menjadi 1.531.430) dalam hal ancaman berbasis web ini.
Baca Juga
BSSN Ungkap 179 Juta Serangan Malware dan Trojan Sepanjang 2023
“Ketika sebagian besar pemerintah di kawasan ini membangun dan meningkatkan kebijakan untuk mendorong ekonomi dan infrastruktur digital, bisnis lokal harus memprioritaskan pertahanan siber terhadap ancaman yang mengintai di dunia maya yang berisiko menghambat upaya mereka dalam pemanfaatan digitalisasi,” katanya.
Sebuah studi baru-baru ini juga mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara menyadari korelasi antara digitalisasi dan peningkatan ancaman siber. Lebih dari seperempat (28%) bisnis yang disurvei mengonfirmasi bahwa organisasi mereka lebih rentan terhadap serangan siber karena perkembangan digitalisasi yang signifikan.
Tekanan eksternal untuk mengungkap insiden siber yang terjadi dan mematuhi praktik keamanan siber kini juga lebih tinggi bagi 16% responden yang disurvei.
Baca Juga
Serangan Ransomware Global Meningkat 49%, Ini Sektor yang Paling Diincar di Indonesia
“Tahun 2024 seharusnya menjadi tahun bagi dunia usaha untuk mengambil satu langkah lebih maju dalam keamanan siber mereka. Era di mana firewall dasar dan solusi titik akhir saja sudah cukup itu sudah berlalu cukup lama. Dengan banyaknya data yang ditangani semua jenis organisasi saat ini dan besarnya kerugian reputasi dan finansial yang dapat diakibatkan dari insiden siber, portofolio solusi dan layanan keamanan yang adaptif dan berbasis intelijen adalah kebutuhan saat ini,” tambah Yeo.

