Starlink Siap Layani Indonesia, Begini Respons dan Harapan Telkomsel
JAKARTA, inverstortrust.id - Operator telekomunikasi PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) berharap pemerintah tidak memberikan keistimewaan kepada penyedia layanan internet berbasis satelit dari SpaceX, Starlink.
Kehadiran layanan internet berbasis satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) itu belakangan ini menimbulkan sejumlah pro dan kontra. Salah satunya dianggap mengancam bisnis operator telekomunikasi di Tanah Air dengan teknologi yang diusungnya.
Baca Juga
Kinerja Keuangan Telkom (TLKM) Kuartal I-2024 Sesuai Estimasi, Begini Target Sahamnya
Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono mengatakan, kehadiran Starlink sebagai kompetitor baru merupakan sebuah keniscayaan. Namun, pemerintah tetap harus memberikan kesetaraan dalam pemberlakuan pemenuhan kewajiban penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia kepada Starlink.
Dengan demikian, level persaingan yang adil atau equal playing field antaroperator telekomunikasi di Tanah Air akan tercipta. “Mulai dari kewajiban pendirian badan usaha yang berkedudukan di Indonesia, penerapan kebijakan perpajakan, kewajiban pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak [PNBP], kewajiban pemenuhan QoS [Quality of Service], Tingkat Komponen Dalam Negeri [TKDN], hingga aspek potensi interferensi, aspek perlindungan dan keamanan data, serta aspek kedaulatan bangsa,” katanya kepada investortrust.id pada Selasa (23/4/2024).
Menurut Saki, perseroan berharap persaingan yang sehat dan adil akan mendorong inovasi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang lebih baik. Pada akhirnya, hal tersebut akan mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta kemajuan bangsa dan negara secara keseluruhan.
Baca Juga
“Kami meyakini bahwa dengan inovasi, kualitas layanan, dan kebutuhan pelanggan, Telkomsel dapat tetap bersaing dan mempertahankan posisinya sebagai penyedia layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Budi Arie Setiadi menyebut Starlink diperlakukan sama seperti operator telekomunikasi yang sudah beroperasi terlebih dahulu di Indonesia. Starlink wajib memenuhi persyaratan untuk beroperasi sebagai operator Very Small Aperture Terminal (VSAT) dan penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP)
Tentu saja, upaya tersebut bertujuan untuk menciptakan persaingan yang setara antaroperator telekomunikasi di dalam negeri. "Enggak mengancam [operator telekomunikasi lokal], kita tunggu saja uji layak operasinya [ULO]. Pokoknya kita akan memberikan ruang yang fair untuk semuanya. Mereka mau investasi, mau berusaha ya silakan saja, tetapi harus sesuai dengan regulasi di Indonesia," katanya ketika ditemui di Kantor Kementerian Kominfo, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2024).
Ujicoba Operasional
Terkait dengan rencana operasional perdana Starlink di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Saki menyebut pihaknya menyambut dengan baik rencana tersebut.
“Telkomsel memahami pentingnya konektivitas yang andal dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, yang akan menjadi lokasi ibu kota negara yang baru,” tuturnya.
Seperti diketahui, Starlink rencananya akan mulai diujicoba pada Mei 2024. IKN Nusantara dipilih menjadi lokasi ujicoba dan ditargetkan bisa beroperasi penuh di sana pada Agustus 2024 dengan syarat uji laik operasi (ULO) sudah dikeluarkan.
Baca Juga
Menurut Saky, layanan Telkomsel di Kalimantan, termasuk IKN Nusantara sampai dengan saat ini masih terus dikembangkan dan diperluas. Tidak hanya jaringan seluler berteknologi 4G dan 5G, tetapi juga jaringan kabel fiber optik (Fibre to the Home/FTTH) IndiHome.
“Dengan infrastruktur jaringan yang kuat dan layanan yang inovatif, Telkomsel siap mengawal IKN Nusantara dengan layanan telekomunikasi digital yang berkualitas sesuai kebutuhan para pelanggan,” tegasnya.
