Bukan Starlink, Perusahaan Ini Lebih Dulu Hadirkan Koneksi Internet Satelit Orbit Rendah di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan telko milik Elon Musk, Starlink, ternyata bukan satu-satunya dan bukan yang pertama menawarkan layanan internet berbasis satelit orbit rendah alias low earth orbit (LEO) di Indonesia. Layanan serupa diperkenalkan lebih dulu oleh PT Dwi Tunggal Putra (DTP).
DTP memperkenalkan layanan internet berbasis LEO pada 10 Agustus 2023 lewat produk BuanterOne pada acara Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) 2023. Berarti, DTP menghadirkan layanan tersebut jauh sebelum Starlink melakukan penandatanganan kerja sama (PKS) layanan segmen enterprise berbagai wilayah di Indonesia dengan anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Telkomsat, pada 17 Mei 2024.
Baca Juga
Starlink Banting Harga Perangkat Berpotensi ke Predatory Pricing, Begini Tanggapan Pemerintah
Dengan demikian, produk Starlink yang resmi meluncur di Tanah Air pada Minggu (19/5/2024) dandisambut gegap gempita oleh masyarakat Indonesia yang mendambakan koneksi internet cepat, sesungguhnya bukan produk atau teknologi yang sama sekali baru. Kesan kuat yang selama ini muncul, layanan internet berbasis LEO milik Starlink layaknya teknologi yang belum pernah hadir atau diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia.
BuanterOne hadir lewat kerja sama DTP dengan OneWeb milik perusahaan satelit asal Inggris, Eutelsat Group. OneWeb memiliki 634 satelit LEO yang mengorbit bumi. Sebanyak 18 di antaranya mengorbit di langit Indonesia.
Manfaat Pendidikan dan Kesehatan
Chief Executive Officer (CEO) DTP, Michael Alfien mengatakan, BuanterOne hadir untuk mengatasi tantangan akses internet di Indonesia. Hambatan geografis dan keterbatasan infrastruktur telah menghambat perkembangan, terutama di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).
"Inisiatif ini akan berkontribusi pada transformasi digital yang diharapkan Presiden Jokowi mampu memberikan manfaat pada pendidikan, kesehatan, dan fasilitas umum," kata Michael Alfien, dalam situs resmi BuanterOne, yang dikutip Kamis (23/5/2024).
BuanterOne menawarkan solusi akses internet berbasis satelit LEO dengan latensi rendah hanya sekitar 70 milidetik (ms) dan kapasitas internet mencapai 195 megabit per detik (Mbps).
Produk ini dirancang khusus untuk segmen business to business (B2B), meliputi penyedia layanan internet service provider (ISP) dan operator seluler yang memerlukan konektivitas pengalur jaringan atau backhaul.
Vice President Eutelsat wilayah Asia Pasifik, David Thorn mengatakan, pihaknya sangat gembira bisa bekerja sama dengan DTP. Sebagai mitra distribusi eksklusif pertama Eutelsat OneWeb di Asia Tenggara, DTP memainkan peran penting.
"Lebih dari itu, saya bangga menyampaikan bahwa DTP sedang membangun portal jaringan satelit bukan hanya untuk melayani Indonesia, tetapi juga negara-negara tetangga," ujar dia.
Inovasi Luar Biasa
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif mengakui, BuanterOne adalah inovasi luar biasa yang membawa harapan baru bagi ISP dan bisnis di daerah 3T Indonesia.
BuanterOne, menurut Arif, juga akan mengubah cara orang mengakses internet di Indonesia, membawa kemajuan nyata dalam berbagai sektor kehidupan.
"BuanterOne dapat memberikan akses internet cepat dan andal ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau. Ini bukan hanya layanan internet biasa,” tandas dia.
Arif menambahkan, kehadiran BuanterOne adalah peluang besar bagi anggota APJII dan pelaku bisnis untuk meningkatkan layanan mereka dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat di daerah 3T.
Baca Juga
Kehadiran Starlink Jadi Awal Senjakala Menara Telekomunikasi
Singkatnya, DTP punya peran yang sama seperti PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) yang telah menjalin kerja sama dengan Starlink sejak 2021. Pada 2022, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu menggelar layanan backhaul Starlink memanfaatkan hak labuh yang telah diberikan oleh pemerintah.
Melalui kerja sama dengan Starlink, Telkomsat sejak tahun lalu sebenarnya sudah menyediakan layanan internet berbasis satelit LEO berkecepatan tinggi, latensi rendah, dan tanpa batas (unlimited), yakni MangoStar. Namun, layanan tersebut masih terbatas untuk segmen pelanggan bisnis dan pemerintahan.
Selain MangoStar, Telkomsat menghadirkan Very Small Aperture Terminal (VSAT) Star yang memiliki tingkat keandalan yang tinggi. Layanan ini dirancang khusus untuk menghubungkan jaringan akses (access network) dengan jaringan utama (core network) dengan kecepatan data hingga 500 Mbps per titik.
Alhasil, layanan tersebut mampu memenuhi kebutuhan terhadap konektivitas yang andal dan cepat untuk operasional sehari-hari seluruh segmen industri yang ada.

