Gandeng Operator TV Satelit, Amazon Siap Saingi Layanan Internet Starlink di Amerika Latin
JAKARTA, investortrust.id - Dominasi Starlink di layanan internet berbasis satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) mulai terancam. Amazon mulai memperluas jangkauan layanan internet berbasis satelit LEO-nya, Project Kuiper.
Melalui laman resminya, Amazon berkolaborasi dengan penyedia layanan televisi berbasis satelit Vrio Corp (DirecTV Latin America) untuk menyediakan layanan internet berbasis satelit LEO kepada pelanggan di Argentina, Brasil, Chili, Uruguay, Peru, Ekuador, dan Kolombia. Khusus untuk Brasil, layanan tersebut akan dipasarkan melalui anak usahanya, Sky Brasil (d/h DirecTV Brasil).
Kolaborasi Amazon dengan Vrio akan menghadirkan pilihan konektivitas internet berkecepatan tinggi yang terjangkau ke wilayah dengan total populasi sekitar 383 juta orang. Angka tersebut termasuk sekitar 200 juta orang yang menurut perkiraan Bank Dunia masih belum terkoneksi dengan internet.
Presiden Vrio Dario Werthein mengatakan, kolaborasi dengan Project Kuiper sejalan dengan strategi untuk memperluas layanan di seluruh Amerika Selatan. Harapannya, dengan menghadirkan layanan internet berbasis satelit LEO, Vrio akan menjadi pemimpin regional dalam bidang informasi, hiburan digital, konektivitas, dan promosi inovasi.
“Kami sangat peduli untuk menjembatani kesenjangan teknologi dan terlebih lagi kesenjangan digital untuk generasi masa depan kita. Waktunya adalah sekarang. Komitmen kami diwujudkan dalam bentuk tindakan,” katanya melalui keterangan resmi Amazon, dikutip Jumat (14/6/2024).
Baca Juga
Starlink Investasi Hanya Rp 30 Miliar, Ini Kata Anak Buah Luhut
Werthein berharap perusahaan dapat membawa manfaat dari akses internet yang terjangkau dan konektivitas ke lebih banyak masyarakat untuk menjangkau lebih jauh dengan layanan yang akan merevolusi cara orang terhubung.
Wakil Presiden Senior untuk Perangkat dan Layanan Amazon Panos Panay menyatakan bahwa Project Kuiper adalah kesempatan yang sangat baik untuk membuat perbedaan dalam kehidupan masyarakat. Karena tidak dapat dipungkiri ada ratusan juta rumah tangga di seluruh dunia yang tidak memiliki akses ke internet yang dapat diandalkan.
“Bekerja sama dengan Vrio untuk menghadirkan akses internet yang terjangkau berarti kami dapat memungkinkan lebih banyak orang untuk berkreasi, terhubung, dan belajar dengan cara yang baru,” katanya.
Kolaborasi Vrio merupakan bagian dari komitmen Amazon untuk bekerja sama dengan penyedia layanan regional yang memiliki kesamaan visi untuk memperluas jangkauan layanan Project Kuiper. Amazon itu diketahui sudah mengoperasikan 3.236 satelit LEO Project Kuiper di atas pemukaan bumi.
Project Kuiper baru-baru ini menguji coba dua satelit purwarupa sebagai bagian dari misi Protoflight yang sukses. Perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos berharap untuk mulai menyebarkan konstelasi satelitnya dalam beberapa bulan mendatang di Amerika Selatan dan menggelar layanannya bersama Vrio akhir tahun ini.
Baca Juga
Kemenkominfo: Ada Potensi Hadirnya Pesaing Baru Starlink di Indonesia
Saingan Baru
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan Indonesia akan kedatangan pemain satelit LEO lainnya setelah Starlink hadir dengan layanan internetnya pada Mei 2024 lalu.
Menurut Ketua Tim Perizinan Penyelenggaraan Telekomunikasi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo Falatehan, sudah ada operator satelit yang akan mengoperasikan satelit LEO-nya untuk kebutuhan telekomunikasi di Indonesia. Sayangnya, dia enggan memberikan penjelasan mengenai operator tersebut.
"Ada beberapa (operator satelit) yang membawa teknologi satelit LEO masuk ke Indonesia," katanya dalam diskusi bertajuk "Mengukur Dampak Kehadiran Starlink terhadap Industri Telekomunikasi dan Daya Beli Masyarakat" di Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2024).
Namun yang jelas, operator satelit LEO yang akan masuk ke Indonesia wajib mengikuti regulasi dari pemerintah. Mulai dari memenuhi persyaratan izin usaha, mengantongi Izin Stasiun Radio (ISR), hingga mematuhi urusan perpajakan tanpa terkecuali.
"Konsekuensinya harus ikutin regulasi yang ada di Indonesia. Seperti Starlink itu awalnya cuma mau jualan over the top (OTT) layani Indonesia tanpa buat perusahaan di Indonesia sampai sekarang akhirnya mau buat perusahaan dan buka kantor di Indonesia. Itu progres dan bisa diikuti oleh yang lainnya untuk berbisnis di Indonesia dan patuh terhadap regulasi," katanya.

