Pemerintah Amankan Koordinat Satelit LEO untuk Dalam Negeri, Siap Saingi Starlink?
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) masih berupaya mengamankan sejumlah titik koordinat satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) untuk kebutuhan telekomunikasi di dalam negeri.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengatakan upaya tersebut dilakukan dengan melobi Persatuan Telekomunikasi Internasional atau International Telecommunication Union (ITU). Orbit yang juga digunakan oleh Starlink itu dinilai strategis lantaran jaraknya tak jauh dari permukaan bumi, hanya 300 mil atau kurang dari 500 km.
“Pemerintah sekarang sedang memperjuangkan beberapa spot (titik) yang ada di angkasa kita untuk LEO, ada peluang beberapa ribu spot yang sedang diminta izin globalnya ke ITU,” katanya ketika ditemui di Universitas Paramadina, Jakarta Selatan, Jumat (31/5/2024).
Sebagai catatan, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi belum lama ini sudah bertemu dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) ITU Doreen Bogdan-Martin untuk mendaftarkan slot orbit (filling) satelit LEO.
Nezar mengungkapkan bahwa pemerintah mempertimbangkan penempatan Satelit Republik Indonesia 2 (Satria-2) di orbit yang sama dengan Starlink. Namun, belum ada keputusan lebih lanjut mengenai rencana tersebut.
Baca Juga
Starlink Masuk Indonesia, Kominfo Bakal Atur Tarif Batas Atas dan Bawah?
"(Penempatan Satria-2 di LEO) lagi dalam pembahasan," kata Nezar. "Bisa jadi (Satria-2 ditempatkan di LEO). Tetapi mungkin juga bukan Satria-2, mungkin dalam bentuk yang lain,” tuturnya.
Satria-2 merupakan kelanjutan dari Satria-1 yang diluncurkan pada 19 Juni 2023. Satria-1 disiapkan untuk memenuhi kebutuhan internet untuk layanan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan kapasitas 150 Gbps (gigabit per detik) atau menghasilkan kecepatan internet 3-5 Mbps (megabit per detik).
Sebelumnya, dalam pertemuannya dengan Sekjen ITU, Menkominfo
mengungkapkan tujuan Indonesia mendaftar slot orbit satelit LEO. Tujuannya adalah ingin menjadi negara yang ikut mengembangkan teknologi satelit tersebut.
"Agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna satelit LEO, tapi juga menjadi pengembang yang kompetitif di level global," ujar Budi Arie dalam pernyataan resmi Kemenkominfo, dikutip Sabtu (1/6/2024).
Merespon apa yang disampaikan Budi Arie, Bogdan-Martin menyebut bahwa Indonesia dapat memproses pendaftaran sesuai prosedur yang sudah ditetapkan. ITU juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan Indonesia melalui pengembangan kapasitas (capacity building), pemanfaatan berbagai forum substantif, dan dukungan para ahli.

