Operator Seluler Putar Otak Genjot Rerata Pendapatan Pelanggan
JAKARTA, investortrust.id - Operator seluler di Indonesia harus memutar otak untuk meningkatkan angka rerata pendapatan per pelanggan atau average revenue per unit (ARPU) di tengah kenaikan biaya operasional dan kondisi makroekonomi yang menekan daya beli masyarakat.
ARPU operator seluler di Tanah Air terbilang rendah di kawasan Asia. Hal tersebut tecermin pada kontribusi ARPU operator seluler Indonesia terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) yang rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan yang sama.
Ciptadana Sekuritas dalam laporan bertajuk "Market Outlook 2024" menyebut kontribusi ARPU operator seluler terhadap PDB Indonesia pada 2022 tercatat hanya sebesar 0,68%. Angka tersebut turun drastis dari kontribusi pada 2013 yang mencapai 1,68%.
Dalam laporan yang sama, Ciptadana Sekuritas memperlihatkan perbandingan kontribusi ARPU operator seluler di Indonesia terhadap PDB dengan beberapa negara tetangga. Kontribusi ARPU operator seluler terhadap PDB di Malaysia mencapai 0,93%, Thailand 0,95%, dan India 0,85%.
Senior Vice President (SVP) Head of Corporate Communications IOH Steve Saerang menyebut bahwa ARPU operator seluler di Indonesia masih berada di bawah rata-rata ARPU operator seluler di Asia Tenggara. Walaupun demikian, pihaknya menilai masih ada ruang bagi operator seluler untuk meningkatkan ARPU sekaligus menyehatkan industri yang kondisinya kurang baik.
ARPU Indosat per kuartal I-2024 tercatat berada di angka Rp 37.500, naik 18,9% dari Rp 32.900 dari kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq) dengan jumlah pelanggan mencapai 100,8 juta. Angka tersebut menurut Steve masih akan terus ditingkatkan, akan tetapi dia enggan menyebut berapa target ARPU IOH sampai dengan akhir 2024.
"Taktiknya dengan memberikan produk-produk yang punya variasi harga. Misalnya saat ini pelanggan pakai kartunya IM3, paket layanannya beragam dari yang ingin mendapatkan kualitas tinggi kecepatan tinggi harga yang ditawarkan juga tinggi kurang lebih Rp 150-200 ribuan. Tetapi ada juga yang ekonomis angka [harganya] di angka Rp 50rb-an ke bawah," ujarnya ketika ditemui di Kantor Pusat IOH, Senin (20/5/2024).
Selain itu, strategi lainnya yang dilakukan IOH adalah mempertahankan layanan berbasis jaringan 2G. Steve menyebut layanan komunikasi suara (telepon) dan pesan singkat atau short message service (SMS) yang menggunakan jaringan tersebut masih berkontribusi besar terhadap ARPU.
"Kontribusi SMS masih besar, walaupun yang paling tinggi di MIDI [Multimedia, Komunikasi Data dan Internet], kontribusi cukup signifikan terhadap laporan keuangan terakhir," ungkapnya.
Selain untuk kebutuhan layanan telepon dan SMS, jaringan 2G masih digunakan di beberapa mesin pembayaran elektronik atau electronic data capture (EDC). Walaupun demikian, fokus utama dari IOH adalah memperluas jaringan 4G dan 5G, alih-alih 2G yang sudah usang.
Berdasarkan laporan triwulan I-2024 IOH, jumlah stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) 2G IOH jumlahnya mencapai 51.269 unit. Sementara itu, untuk BTS 4G dan 5G masing-masing jumlahnya 183.760 dan 90 unit.
Sementara itu, Vice President Corporate Communications and Social Responsibility PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Saki Hamsat Bramono menyebut ARPU Telkomsel pada kuartal I-2024 mencapai Rp 45.300 dengan dukungan 159,7 juta pelanggan.
Angka tersebut turun dari Rp 46.500 pada kuartal IV-2023. ARPU Telkomsel pada kuartal IV-2023 itu sudah turun dari kuartal III-2023 sebesar Rp 48.600.
Saki menyebut pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menangkap berbagai peluang pertumbuhan dan memastikan keberlanjutan bisnis yang secara langsung dapat meningkatkan ARPU Telkomsel sampai dengan akhir tahun ini. Strategi yang utama adalah memenuhi kebutuhan dan perilaku pelanggan dengan menyesuaikan skema pentarifan yang ideal dan menjaga kondisi persaingan agar tetap sehat.
"Mendorong dan mengoptimalkan personalisasi, segmentasi, dan diferensiasi produk dan layanan guna menjaga loyalitas dan mengoptimalisasikan nilai tambah bagi pelanggan," katanya kepada Investortrust, dikutip Senin (20/5/2024).
Anak usaha dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu juga akan memperluas cakupan dan optimalisasi jaringan dengan menggunakan teknologi terdepan. Selain untuk mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar, upaya tersebut akan mendukung pertumbuhan pengalaman konektivitas digital yang berorientasi kepada pelanggan secara produktif dan berkelanjutan.
"Memperkuat kapabilitas core broadband [koneksi inti] dengan mempertahankan standar kualitas layanan dan memperluas portfolio serta menghadirkan beragam inovasi produk, layanan, dan pengalaman digital yang istimewa," papar Saki.
Saki menambahkan pihaknya juga terus menghadirkan inovasi dan terobosan baru untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar. Upaya tersebut salah satunya direalisasikan melalui perluasan layanan Fixed Mobile Convergence (FMC) yang mengintegrasikan layanan seluler dan jaringan kabel serat optik (fixed broadband).
Assistant Vice President (AVP) Shareholder Relations Telkom Achmad Faisal mengungkapkan layanan FMC sukses meningkatkan kontribusi Telkomsel terhadap induk usahanya. Tak tanggung-tanggung, kontribusi Telkomsel berhasil terdongkrak ke 75% berkat masifnya penetrasi FMC.
Pada 2023, Telkom mencatatkan pendapatan sebesar Rp149,2 triliun atau tumbuh 1,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Kenaikan tersebut diiringi dengan kenaikan laba bersih hingga 18,3% (yoy) sebesar Rp24,6 triliun.
"Sebelum inisiatif FMC kontribusi Telkomsel hanya 60% dari pendapatan Telkom keseluruhan. Sekarang ditambah dengan inisiatif FMC jadi 75%, sangat signifikan [kenaikannya]. Harus dijaga kontribusi dan pertumbuhan dari bisnis existing [yang sudah ada]," kata Faisal ketika ditemui di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat usai malam anugerah The Best Investortrust Companies, Kamis (16/5/2024).
Kuantitas vs Kualitas Pelanggan
Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk (EXCL) Dian Siswarini menyebut keberhasilan XL Axiata memecahkan rekor ARPU pada kuartal I-2024 sebesar Rp 44.000 tidak terlepas dari peran pelanggan setia. Pelanggan setia yang dimaksud adalah pelanggan tidak pernah pindah ke operator lain.
"Pelanggan yang sebenarnya adalah pelanggan yang setia menggunakan layanan XL dengan baik. Kalau dilihat dari tahun ke tahun jumlah pelanggan memang tidak naik banyak, tetapi juga tidak turun banyak, fokus kami adalah meningkatkan layanan agar pelanggan bisa lebih produktif , sehingga pengeluaran per pelanggan meningkatkan ARPU," katanya dalam Paparan Publik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2024 XL Axiata di XL Axiata Tower, Jumat (3/5/2024).
Secara tahunan ARPU XL Axiata pada kuartal I-2024 naik sebesar 10% (year-on-year/YoY). Kenaikan tersebut berbanding terbalik dengan jumlah pengguna yang jumlahnya 57,6 juta pelanggan atau turun sekitar 300.000 pelanggan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan terjadi untuk kategori pelanggan prabayar dari 56,4 juta menjadi 56 juta. Sementara itu untuk pelanggan pascabayar stagnan pada angka 1,6 juta.
Dian menjelaskan kenaikan ARPU sebesar 10% (YoY) pada kuartal I-2024 dorong oleh kenaikan trafik data sebesar 18% dibandingkan dengan kuartal IV-2024 (quarter to quarter/qtq) dan 3,2% YoY. Kenaikan tersebut diikuti oleh kenaikan pendapatan perusahaan sebesar 12% (YoY) ke Rp 8,44 triliun dan laba bersih 168% ke Rp 547 miliar.
“Kontribusi pendapatan layanan data dan digital pada total pendapatan mencapai 93%,” ungkap Dian.

