Soal Restrukturisasi Utang, Ini Janji Manajemen Garuda kepada Pemerintah
JAKARTA, investortrust.id – Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mendapat tugas berat dari pemerintah, yakni merestrukturisais utang sekaligus merestrukturisasi perusahaan dalam waktu bersamaan. Manajemen Garuda menjanjikan sejumlah hal kepada pemerintah.
“Janji nomor satu kami adalah menjadikan Garuda sebagai perusahaan yang mengedepankan keuntungan,” tutur Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Dengan demikian, menurut Irfan, kewajiban manajemen Garuda Indonesia saat ini dan ke depan adalah memastikan perusahaan pelat merah itu menjadi perusahaan untung, bukan perusahaan yang terus merugi.
Baca Juga
Irfan Setiaputra mengungkapkan, penyehatan Garuda mulai membuahkan hasil. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Garuda yang semula negatif, kini kembali positif. Arus kas yang awalnya defisit, sudah kembali surplus.
Itu sebabnya, Irfan optimistis tahun depan Garuda sudah mampu mencetak keuntungan. Bahkan, iayakin jika sejumlah aksi korporasi Garuda dapat diimplementasikan dalam dua bulan ke depan, BUMN itu bisa membukukan laba bersih positif pada akhir 2023.
Baca Juga
Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
“Kami dengan cukup optimis bisa menyampaikan bahwa EBITDA Garuda sekarang positif, cash juga sudah surplus. Kalau kita ngomong neraca rugi-laba, ya mestinya tahun depan sudah oke (sudah untung). Malah tahun ini memungkinkan bisa membukukan laba,” ujar Irfan.
Agar penyehatan Garuda tetap berada di jalur yang benar (on the right track), kata Irfan, jajaran direksi kini fokus menggarap sumber-sumber pendapatan (revenue) yang dapat menghasilkan arus kas positif secara berkesinambungan.
Baca Juga
“Kami harus memastikan bisa mengakumulasi cash karena kami punya janji membayar utang jangka panjang. Walaupun waktu jatuh tempo nanti mungkin saya sudah nggak dirut lagi, saya harus bangun sistem untuk memastikan Garuda bisa bayar utang,” tandas dia.
Laporan keuangan Garuda menunjukkan, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham GIAA itu memiliki utang jangka pendek dan jangka panjang masing-masing sebesar Rp 24 triliun dan Rp 96,5 triliun. Hingga kuartal III-2023, Garuda masih merugi Rp 1,1 triliun.

