Garuda Sehat Lagi, Manajemen Berharap Ini kepada Masyarakat
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mulai sehat lagi setelah menjalani program restrukturisasi utang dan restrukturisasi perusahaan. Sejalan dengan itu, manajemen Garuda berharap masyarakat tetap mencintai maskapai yang sudah menjadi flag carrier atau identitas bangsa Indonesia tersebut.
“Kami berharap masyarakat Indonesia tetap bangga terhadap Garuda. Kami ingin Garuda tetap menjadi perusahaan kebanggaan nasional,” tegas Direktur Utama Garuda, Irfan Setiaputra kepada investortrust.id di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
Soal Restrukturisasi Utang, Ini Janji Manajemen Garuda kepada Pemerintah
Irfan menambahkan, kecintaan masyarakat terhadap Garuda harus didasarkan pada keunggulan dan ketahanan perusahaan melat merah itu sebagai maskapai kelas dunia, bukan karena menerbangi banyak rute penerbangan.
“Kami ingin masyarakat bangga kepada Garuda bukan karena Garuda terbang ke mana-mana, melainkan karena mampu menghasilkan keuntungan dan tidak menjadi beban publik lagi. Kan kita semua tahu cerita Garuda masa lalu,” ujar dia.
Baca Juga
Menurut Irfan Setiaputra, penyehatan Garuda Indonesia mulai membuahkan hasil. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Garuda yang semula negatif, kini kembali positif. Arus kas yang awalnya defisit, sudah kembali surplus.
Karena itu, Irfan Setiaputra optimistis tahun depan Garuda sudah mampu mencetak keuntungan. Bahkan, iayakin jika sejumlah aksi korporasi Garuda dapat diimplementasikan dalam dua bulan ke depan, maskapai penerbangan pelat merah itu sudah bisa membukukan laba bersih positif pada akhir 2023.
Baca Juga
Garuda Tak Lagi Mengejar Market Share, Ini yang Dikejarnya Sekarang!
“Kami dengan cukup optimistis bisa menyampaikan bahwa EBITDA Garuda sekarang positif, cash juga sudah surplus. Kalau kita ngomong neraca rugi-laba, ya mestinya tahun depan sudah oke (sudah untung). Malah tahun ini memungkinkan bisa membukukan laba,” papar dia.
Laporan keuangan Garuda menunjukkan, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham GIAA itu memiliki utang jangka pendek dan jangka panjang masing-masing sebesar Rp 24 triliun dan Rp 96,5 triliun. Hingga kuartal III-2023, Garuda masih merugi Rp 1,1 triliun.

