Kemenkominfo Pastikan Starlink Tak Ganggu Satria-1
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memastikan kehadiran Starlink tidak akan mengganggu operasional Satelit Republik Indonesia (Satria-1) yang disiapkan untuk mencukupi kebutuhan internet di wilayah terdepan, tertinggal dan terluar (3T).
Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kemenkominfo Ismail menjelaskan, Starlink dan satelit milik Badan Aksesibilitas Telekomunikasi (Bakti) Kemenkominfo beroperasi di pita frekuensi yang berbeda. Satria-1 beroperasi di pita frekuensi Ka dengan jangkauan frekuensi antara 18 gigahertz (GHz) – 40 GHz.
Sebagai catatan, pita frekuensi Ka atau Kurtz-above band adalah pita frekuensi yang mengacu pada standar Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). Pita frekuensi ini digunakan oleh beberapa satelit meliputi PCG (Hongkong/Singapura), Sirius 4, DirecTV 11, Nimiq 4, Hylas, dan Badr 5 yang juga menggunakan orbit geostasioner (Geostationary Earth Orbit/GEO) seperti Satria-1.
“Nah, untuk Starlink ini dia menggunakan banyak spektrum, karena dia perizinannya itu sebenarnya global. Dia kan konstelasi LEO [Low Earth Orbit/orbit rendah]. Konstelasi itu artinya ribuan satelit yang beredar mengelilingi bumi, menjangkau seluruh dunia. Izin konstelasi penggunaan frekuensinya untuk dunia,” kata Ismail dalam sebuah diskusi dengan awak media di kantor Kemenkominfo, Jumat (17/5/2024).
Baca Juga
Menko Luhut: Elon Musk Resmikan Starlink di Puskesmas Minggu Lusa
Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa Starlink dengan satelit-satelitnya sudah dipastikan tunduk terhadap peraturan nasional terkait operasional satelit. Selain itu, penggunaan pita frekuensi dari seluruh satelit yang mengorbit bumi, termasuk satelit-satelit Starlink dan Satria-1 sudah diatur dalam forum di International Telecommunication Union (ITU).
“Sudah diatur di ITU melalui radio regulation, ada forumnya dan kita berdiskusi secara rutin [dengan berbagai negara di dunia] untuk mengatur spektrum frekuensi ini. Jadi, spektrum frekuensi ini bukan negara sendiri yang menentukan, saya mau pakai ini, mau pakai itu, enggak bisa, nanti konflik karena ini borderless [tanpa batas]," paparnya.
Ismail menambahkan untuk bisa beroperasi di suatu negara satelit harus mengantongi hak labuh atau landing rights di suatu negara. Kemenkominfo telah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostasioner (NGSO) Starlink kepada PT Telekomunikasi Satelit (Telkomsat) sejak 2022.
"Ground segment [stasiun bumi] dibangun di negara itu. Kalau enggak ada ground segment ini pancaran [sinyal] dari satelit ada tetapi enggak ada yang menerima dari bawah, dari ground segment. Dia memerlukan hak labuh untuk itu," jelasnya.
Baca Juga
Pemerintah Ungkap Nasib Satelit SATRIA-I Usai Kehadiran Starlink di Indonesia
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi sempat menegaskan bahwa Starlink tidak akan tumpang tindih dengan Satria-1. Baik dari segi teknis operasional maupun pemanfaatannya.
Satria-1 disiapkan untuk memenuhi kebutuhan internet untuk layanan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan kapasitas 150 Gbps (gigabit per detik) atau menghasilkan kecepatan internet 3-5 Mbps (megabit per detik). Adapun, Starlink menyediakan layanan internet komersil seperti yang disediakan oleh penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) pada umumnya.
“Enggak [tumpang tindih], Satria-1 kan satelit GEO, kalau Starlink itu di LEO, jadi beda dong. Kebutuhannya juga beda,” katanya ketika ditemui di Pullman Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2024).
Perlu diketahui, sebagai satelit GEO, Satria-1 adalah satelit yang mengorbit pada ketinggian 36.000 km dari permukaan bumi. Satelit GEO memiliki keunggulan utama yaitu kemampuannya untuk tetap berada di atas satu titik di permukaan bumi.
Sementara itu, Starlink yang notabene adalah satelit LEO berada pada ketinggian 500 hingga 1.200 km.
Karena relatif dekat dengan permukaan Bumi, salah satu kelebihan satelit di orbit LEO adalah memiliki waktu transmisi data rendah. Namun, di sisi lain satelit LEO memiliki periode mengelilingi Bumi lebih cepat daripada rotasi Bumi, sehingga dibutuhkan lebih dari satu satelit untuk dapat melayani satu lokasi di bumi.

