Gelar ITIF 2024, Ini Peluang Investasi Pariwisata yang Dikejar Pemerintah
JAKARTA, investortrust.id - Penyelenggaraan forum investasi pariwisata International Tourism Investment Forum (ITIF) 2024 diharapkan menjadi pintu masuk bagi investor untuk berinvestasi di destinasi wisata potensial yang minim fasilitas penunjang.
Menurut Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, mendatangkan investor untuk menanamkan modalnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bukan perkara mudah. Apalagi mengajak mereka untuk mengembangkan destinasi wisata poensial dengan membangun infrastruktur pendukung seperti hotel, restoran, dan lain-lain.
“Struggling (perlu usaha keras), investasi di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif ini sangat dibutuhkan. Karena ultimate goal (tujuan besarnya) adalah meningkatkan jumlah wisatawan ke Indonesia dengan potensi luar biasa dari berbagai destinasi,” katanya dalam acara “Weekly Brief with Sandi Uno” di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2024).
Triawan menyebut ITIF akan dimanfaatkan untuk memberikan gambaran kepada para investor mana destinasi wisata potensial yang membutuhkan fasilitas penunjang. Demikian halnya juga dengan destinasi wisata yang sudah terlampau banyak investasi fasilitas penunjangnya.
Baca Juga
Sandiaga Uno Pastikan Coret Wacana Iuran Pariwisata dari Pembahasan ITF
Selain itu, akan dibahas juga apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara di destinasi wisata potensial. Karena tidak bisa dipungkiri minimnya kunjungan menjadi pertimbangan utama investor sebelum menanamkan modalnya.
“Sebagai contoh Mandalika, Lombok, di satu musim ada [gelaran] MotoGP atau balapan lainnya kita kekurangan akomodasi. Kita perlu tambah hotel, tetapi pengusaha itu lihat hotelnya bisa penuh sepanjang tahun atau enggak? Kita telaah supaya ada kepastian pelancong datang atau enggak,” tuturnya.
Triawan mengungkapkan selain fasilitas penunjang dan acara bertaraf internasional, pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya juga tak kalah penting. Salah satu contohnya adalah keberhasilan Korea Selatan mengembangkan sektor pariwisatanya berkat K-Pop yang mendunia.
“Inspirasinya Korea [Selatan], yang dijual itu konten ekonomi kreatifnya, karena K-Pop. Musik K-Pop mendunia semua orang ingin berkunjung ke Korea karena penasaran dengan apa yang dilihat di film,” tuturnya.
Kesiapan Acara
Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Rizky Handayani Mustafa mengatakan kesiapan penyelenggaraan ITIF sudah mencapai 75%. Forum tersebut rencananya akan digelar di PIK Avenue, Jakarta Utara pada 5-6 Juni 2024.
“Kesiapan sudah 75%, sekarang kami menunggu konfirmasi siapa yang akan hadir ke ITIF. Selain ITIF sendiri, akan ada side event [acara yang berdampingan],” katanya.
Acara tersebut meliputi Roundtable India-Indonesia, Roundtable Rusia-Indonesia, dan Roundtable Sustainable Tourism. Dalam ITIF dan acara pendamping akan dibahas banyak peluang investasi di sektor ekonomi dan kreatif di Tanah Air.
“Bukan hanya peluang investasi yang umum seperti hotel dan restoran. Tetapi juga investasi lapangan golf, medical tourism atau rumah sakit,” ungkapnya.

