Bus Jabodetabek Residence Connexion Dinilai Belum Maksimal, Cakupan Layanannya Baru 19,7%
JAKARTA, investortrust.id - Layanan transportasi umum bus Jabodetabek Residence Connexion (JRC) yang melayani mobilitas masyarakat dari kawasan perumahan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menuju pusat kota Jakarta dinilai belum maksimal.
Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, layanan bus JRC yang diupayakan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk melayani masyarakat kelas menengah ke atas masih belum maksimal. Hal ini karena layanan bus tersebut belum hadir di seluruh perumahan menengah ke atas dengan harga rumah di atas Rp 2 miliar yang ada di Jabodetabek. Dari 158 perumahan kelas menengah atas di Jabodetabek, bus JRC baru melayani 23 perumahan atau 19,7%.
"Layanan angkutan umum bus JRC baru ada di 23 perumahan kelas atas atau 19,7% dari 158 perumahan kelas menengah ke atas di Jabodetabek," kata Djoko kepada Investortrust.id, Jumat (10/5/2024).
Baca Juga
XL Axiata Sediakan Layanan IoT dan Koneksi Tetap untuk Bus Listrik MAB
Lebih lanjut, Djoko mengungkapkan di luar wilayah Jakarta, terdapat 117 perumahan yang belum dilayani oleh rute JRC (80,3%), sehingga diperlukan upaya pengembangan rute baru. Untuk perumahan kelas atas di Jakarta, sebanyak 30 perumahan tidak memerlukan penyediaan rute JRC dengan asumsi jaringan layanan angkutan umum di DKI Jakarta sudah sangat massif.
"Pasalnya, layanan bus Transjakarta sudah dapat mengover 88,2% wilayah Jakarta," ungkapnya.
Layanan bus Jakarta Residence Connexion dipatok tarif Rp 20.000 sampai dengan Rp 25.000 per orang tanpa subsidi dan dilayani oleh operator BUMN, yakni Perum Damri maupun swasta yang terdiri dari PT Sinar Jaya Megah Langgeng/PO Sinar Jaya, PT Eka Sari Lorena Transport Tbk/PT Lorena-Karina, PT Wifend Dharma Persada/PO Dewi Sri, PT Alfa Omega Transmulia/AO Transport, dan lainnya. Bus JRC berangkat dari perumahan mewah menuju pusat aktivitas di Jakarta, seperti kawasan Blok M dan kawasan Monumen Nasional (Monas).
"Jika menggunakan mobil pribadi, biaya yang dikeluarkan lebih mahal, sehingga memilih beralih ke bus JR Connection. Sarana angkutan umum yang digunakan tidak berdesakan, tidak harus antre menunggu lama, berpendingin, tidak ada penumpang berdiri," tutur Djoko.
Selain rutenya yang belum menjangkau seluruh perumahan kelas menengah atas di Jabodetabek, layanan bus JRC juga terbatas dari sisi waktu operasional. Bus-bus tersebut hanya beroperasi setiap hari kerja di pagi dan sore hari.
"Kalau dapat subsidi, pemberi subsidi mungkin dapat menambahkan jadwal yang diinginkan masyarakat di luar yang sudah ada. Kalau tidak ada subsidi operator akan berhitung ulang. Namun, bisa juga pada jam tidak sibuk diadakan pelayanan dengan subsidi tarif," papar Djoko.
Baca Juga
Sambut Lebaran, VKTR dan Gapura Angkasa Luncurkan Bus Apron Listrik di Bandara Soetta
Kemudian yang tak kalah penting, Djoko menyebut masih ada 2.010 perumahan di wilayah Jabodetabek yang belum tersentuh angkutan umum untuk menunjang mobilitas warganya menuju pusat kota Jakarta. Perumahan tersebut meliputi 268 perumahan kelas menengah (harga rumah Rp 1 miliar – 2 miliar) dan 1.584 perumahan kelas bawah (kurang dari Rp 1 miliar).
"Diperlukan fasilitas angkutan umum ke semua hunian di wilayah Jabodetabek yang berjumlah 2.010 kawasan perumahan. Harus diupayakan untuk menyediakan layanan berdasarkan tingkat keterjangkauan masyarakat yang dilihat dari harga tempat tinggal," ujarnya.

